EKONOMI ISLAM
PENERAPAN AJARAN EKONOMI ISLAM DI INDONESIA
PENDAHULUAN
Sejak terbitnya buku Max Weber The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1904-5) orang yakin adanya hubungan erat antara (ajaran-ajaran) agama dan etika kerja, atau antara penerapan ajaran agama dengan pembangunan ekonomi. Weber memang mulai dengan analis ajaran agama Protestan (dan Katolik), meskipun menjelang akhir hayatnya dibahas pula agama Cina (1915, Taoisme dan Confucianisme), India ( 1916 Hindu dan Budha), dan Yudaisme(1917).
Yang menarik, meskipun Weber merumuskan kesimpulannya setelah mempelajari secara mendalam ajaran-ajaran agama besar di dunia ini, namun berulang kali dijumpai kontradiksi-kontradiksi.
The church did influence people s attitudes toward the economy but mostly in a negative manner because the economic mentality it furthered was essentially traditionalistic. The church like hierocracy more generally has casually encouraged a non-capitalistic and partly anti-capitalistic (mentality).1)
1) Swedberg, Richard, Max Weber and The Idea of Economic Sociology. Prienceton UP, 1998, up at 112
Dalam ekonomi Islam juga etika agama kuat sekali melandasi hukum-hukumnya . Namun juga disini banyak keberhasilan ekonomi malahan didasarkan pada penyimpangan ajaran-ajarannya.
ETIKA DAN PERILAKU EKONOMI
Etika sebagai ajaran baik-buruk, benar-salah, atau ajaran tentang moral khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber terutama dari ajaran agama. Itulah sebabnya banyak ajaran dan paham dalam ekonomi Barat menunjuk pada kitab Injil (Bible), dan etika ekonomi Yahudi banyak menunjuk pada Taurat. Demikian pula etika ekonomi Islam termuat dalam lebih dari seperlima ayat-ayat yang dimuat dalam Al-Quran. Namun jika etika agama Kristen-Protestan telah melahirkan semangat (spirit) kapitalisme, maka etika agama Islam tidak mengarah pada Kapitalisme maupun Sosialisme. Jika Kapitalisme menonjolkan sifat individualisme dari manusia, dan Sosialisme pada kolektivisme, maka Islam menekankan empat sifat sekaligus yaitu :
1. Kesatuan (unity)
2. Keseimbangan (equilibrium)
3. Kebebasan (free will)
4 .Tanggungjawab (responsibility)
Manusia sebagai wakil (kalifah)Tuhan di dunia tidak mungkin bersifat individualistik karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi.
SISTEM EKONOMI ISLAM
Sistem ekonomi Islam berbeda dari Kapitalisme,Sosialisme, maupun Negara Kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari Kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Kecelakaanlah bagi setiap yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (104-2). Orang miskin dalam Islam tidak dihujat sebagai kelompok yang malas dan yang tidak suka menabung atau berinvestasi. Ajaran Islam yang paling nyata menjunjung tinggi upaya pemerataan untuk mewujudkan keadilan sosial, jangan sampai kekayaan hanya beredar dikalangan orang-orang kaya saja diantara kamu (59:7).
Disejajarkan dengan Sosialisme, Islam berbeda dalam hal kekuasaan negara, yang dalam Sosialisme sangat kuat dan menentukan. Kebebasan perorangan yang dinilai tinggi dalam Islam jelas bertentangan dengan ajaran Sosialisme.
Akhirnya ajaran Ekonomi Kesejahteraan (Welfare State) yang berada di tengah-tengah antara Kapitalisme dan Sosialisme memang lebih dekat ke ajaran Islam. Bedanya hanyalah bahwa dalam Islam etika benar-benar dijadikan pedoman perilaku ekonomi sedangkan dalam Welfare State tidak demikian, karena etika Welfare State adalah sekuler yang tidak mengarahkan pada integrasi vertikal antara aspirasi materi dan spiritual (Naqvi,h80)
Demikian dapat disimpulkan bahwa dalam Islam pemenuhan kebutuhan materiil dan spiritual benar-benar dijaga keseimbangannya, dan pengaturaan oleh negara, meskipun ada, tidak akan bersifat otoriter.
State intervention, directed primarily at reconciling the possible social conflict between man s ethical and economic behaviors cannot lead the society onto road to serfdom but will guide it gently along the road to human freedom and dignity (Naqvi,1951.h81)
ETIKA BISNIS
Karena etika dijadikan pedoman dalam kegiatan ekonomi dan bisnis, maka etika bisnis menurut ajaran Islam juga dapat digali langsung dari Al Qur an dan Hadist Nabi. Misalnya karena adanya larangan riba, maka pemilik modal selalu terlibat langsung dan bertanggung jawab terhadap jalannya perusahaan miliknya, bahkan terhadap buruh yang dipekerjakannya. Perusahaan dalam sistem ekonomi Islam adalah perusahaan keluarga bukan Perseroan Terbatas yang pemegang sahamnya dapat menyerahkan pengelolaan perusahaan begitu saja pada Direktur atau manager yang digaji. Memang dalam sistem yang demikian tidak ada perusahaan yang menjadi sangat besar, seperti di dunia kapitalis Barat, tetapi juga tidak ada perusahaan yang tiba-tiba bangkrut atau dibangkrutkan.
Etika Bisnis Islam menjunjung tinggi semangat saling percaya, kejujuran, dan keadilan, sedangkan antara pemilik perusahaan dan karyawan berkembang semangat kekeluargaan (brotherhood). Misalnya dalam perusahaan yang Islami gaji karyawan dapat diturunkan jika perusahaan benar-benar merugi dan karyawan juga mendapat bonus jika keuntungan perusahaan meningkat. Buruh muda yang masih tinggal bersama orang tua dapat dibayar lebih rendah, sedangkan yang sudah berkeluarga dan punya anak dapat dibayar lebih tinggi dibanding rekan-rekannya yang muda.2)
2) Rodney Wilson, Economics, Ethics and Religion, Macmillan, 1997. h. 211
EKONOMI PANCASILA
Sistem Ekonomi Islam yang dijiwai ajaran-ajaran agama Islam memang dapat diamati berjalan dalam masyarakat-masyarakat kecil di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun dalam perekonomian yang sudah mengglobal dengan persaingan terbuka, bisnis Islam sering terpaksa menerapkan praktek-praktek bisnis yang non Islami. Misalnya, perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas yang memisahkan kepemilikan dan pengelolaan, dalam proses meningkatkan modal melalui pasar modal (Bursa Efek), sering terpaksa menerima asas-asas sistem kapitalisme yang tidak Islami.
Di Indonesia, meskipun Islam merupakan agama mayoritas, sistem ekonomi Islam secara penuh sulit diterapkan, tetapi Sistem Ekonomi Pancasila yang dapat mencakup warga non Islam kiranya dapat dikembangkan. Merujuk sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, Sistem Ekonomi Pancasila menekankan pada moral Pancasila yang menjunjung tinggi asas keadilan ekonomi dan keadilan sosial seperti halnya sistem ekonomi Islam. Tujuan Sistem Ekonomi Pancasila maupun sistem ekonomi Islam adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang diwujudkan melalui dasar-dasar kemanusiaan dengan cara-cara yang nasionalistik dan demokratis.
PENUTUP
Ajaran agama Islam dalam perilaku ekonomi manusia dan bisnis Indonesia makin mendesak penerapannya bukan saja karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, tetapi karena makin jelas ajaran moral ini sangat sering tidak dipatuhi. Dengan perkataan lain penyimpangan demi penyimpangan dalam Islam jelas merupakan sumber berbagai permasalahan ekonomi nasional.
Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezkinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, tertapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat (An Nahl, 16:112).
Dapatkah kiranya perumpamaan ini tidak dianggap sekedar perumpamaan? Jika tidak, firman Allah lain perlu dicamkan benar-benar.
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al Israa, 17:16)
Prof. Dr. Mubyarto : Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM dan Ketua Yayasan Agro Ekonomika
eramuslim - Sistem ekonomi berbasis Syariah, belakangan ini makin populer bukan hanya di negara-negara Islam tapi juga negara-negara barat. Ditandai dengan makin suburnya bank-bank yang menerapkan konsep syari'ah, bukan tidak mungkin suatu saat seluruh aspek perekonomian akan berbasiskan syariah. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam perekonomian bisa diterima di berbagai kalangan, karena sifatnya yang universal dan tidak eksklusif. Nilai-nilai itu misalnya keadilan dan perlakuan yang sama dalam meraih kesempatan berusaha.
Konsep ekonomi yang Islami sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang menerapkan etika dalam berdagang. Perkembangan sistem ekonomi Islami ini terhenti seiring dengan makin menguatnya kelompok sosialis dan kapitalis di Eropa. Namun seiring perjalanan waktu dan runtuhnya komunis, pemikiran untuk menerapkan sistem perekonomian yang Islami muncul kembali sebagai konsep alternatif. Dan terbukti, konsep ekonomi Islam yang mengedepankan kejujuran dan keadilan ini bisa diterima, dan kini sedang mengalami perkembangan yang pesat.
Di Indonesia konsep ekonomi syariah mulai dikenal ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia, pada tahun 1991. Namun pada saat itu, kehadiran bank berbasis syariah ini belum mendapatkan perhatian yang luas dari masyarakat. Baru beberapa tahun belakangan ini, apalagi setelah MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap bunga bank, bank berbasis Syariah mulai bermunculan, diikuti dengan munculnya lembaga keuangan berbasis syariah lainnya, seperti asuransi syariah yang memang belum menjamur seperti bank syariah.
Meski sudah mengalami perkembangan yang cukup baik, namun kalangan pelaku ekonomi syariah merasa konsep ini belum mendapat dukungan penuh pemerintah. Perekonomian Syariah, masih dianggap sebelah mata sebagai salah satu sistem perekonomian yang seharusnya bisa menjadi salah satu alternatif untuk keluar dari krisis ekonomi yang masih melilit bangsa ini. Lantas bagaimana prospek ekonomi syariah di Indonesia di masa depan?
Harus Ada Wakil Ekonomi Syariah di Dewan Ekonomi Nasional
Bersamaan dengan dikeluarkannya fatwa haram terhadap bungan bank, MUI mengkampanyekan gerakan ekonomi syariah tahun 2003 lalu. Namun gerakan ini ternyata kurang berhasil, sehingga sosialisasi ekonomi syariah ke masyarakat hasilnya juga tidak maksimal. Salah satu penyebabnya, karena pemerintahan pada waktu itu kurang mengakomodasi gerakan itu.
Namun untuk tahun ini, dengan munculnya kepemimpinan baru, ada seberkas harapan dari para pelaku ekonomi syariah khususnya bank-bank syariah untuk kembali mengedepankan sosialisiasi ekonomi syariah yang lebih luas kepada masyarakat. Mereka yang tergabung dalam Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) menilai pemerintah sudah saatnya mengakomodasi praktek keuangan Islami yang kini mulai marak di Indonesia. Untuk itu, mereka meminta agar ada perwakilan dari ekonomi syariah dalam struktur Dewan Ekonomi Nasional yang akan dibentuk pemerintah baru nanti.
Ketua Asbisindo, Wahyu Dwi Agung pada eramuslim mengatakan, dengan adanya wakil ekonomi Syariah di Dewan Ekonomi Nasional (DEN) nantinya, sosialisasi tentang ekonomi Syariah baik di kalangan masyarakat maupun di birokrasi pemerintahan akan lebih intensif dilakukan, sehingga pemahaman masyarakat tentang ekonomi syariah lebih baik.
"Jangankan masyarakat awam, para ulamanya saja masih banyak koq yang belum memahami konsep ekonomi syariah," ujar Wahyu. Jadi jangan heran, meski Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam, masyarakatnya masih enggan untuk menjadi nasabah bank syariah. "Kalau dibandingkan dengan bank konvensional, portofolio masyarakat untuk bank syariah masih 1 persen," tambah Wahyu.
Namun dengan pertumbuhan bank syariah yang rata-rata di atas 70 persen, Wahyu optimis ada peluang besar bagi bank syariah untuk lebih banyak menarik minat masyarakat. Selama ini yang kurang mengemuka di masyarakat tentang konsep syariah adalah bahwa konsep ekonomi syariah sangat menjunjung tinggi tranparansi, kejujuran dan keadilan dalam melakukan dan membuka kesempatan berusaha bagi masyarakat. Sebagian besar masyarakat hanya tahu konsep Syariah sebatas pada diharamkannya bunga bank.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi syariah membutuhkan instrumen-instrumen keuangan syariah yang memadai. Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Rizqullah pada eramuslim. Ia menyatakan, pemerintah saat ini masih mengandalkan sistem ekonomi barat yang kapitalis meskipun terbukti memiliki kelemahan-kelemahan.
"Keluarnya Undang-Undang Perbankan No.10/1998 mengindikasikan bahwa pemerintah mengakui kelemahan yang ada dalam sistem ekonomi kapitalis. Makanya, pemerintah berusaha mencari solusi untuk mengatasi itu. Cuma sayangnya, solusi itu tidak dibarengi dengan upaya-upaya lanjutan untuk mendorong perkembangan lembaga keuangan syariah dan tatanan-tatanan ekonomi yang Islami," kata Rizqullah.
Lebih lanjut, ketua Asbisindo, Wahyu Dwi Agung mengatakan, adanya wakil ekonomi Syariah di DEN, diharapkan juga bisa mendorong penerapan konsep syariah dalam semua bentuk aktifitas perekonomian, bukan hanya perbankan, tapi juga perdagangan atau penerbitan obligasi yang sampai saat ini masih memakai sistem bunga.
"Intinya kalau sudah ada dukungan penuh dari pemerintah, dengan penerapan konsep syariah ini nantinya akan ada keberpihakan yang lebih besar pada masyarakat. Membangun ekonomi rakyat itu kan membangun ekonomi lokal. Nah, bank-bank lokal ini kita harapkan juga ada syariahnya. Kemudian pemerintah kalau membuat order atau kontrak, bisa saja mewajibkan 30 persen pembiayaannya dari lembaga keuangan syariah," papar Wahyu.
Konsep Ekonomi Syariah di Indonesia Sebuah Keharusan
Ketua Asbisindo, Wahyu Dwi Agung mengatakan, konsep ekonomi syariah di Indonesia bukan lagi semata-mata sebagai alternatif sistem perekonomian di masa depan tetapi sudah menjadi keharusan. Karena hubungannya bukan pada Islam semata, tapi Islam sebagai rahmat lil 'alaamin yang kaitannya adalah ibadah secara vertikal maupun horisontal.
"Sebagai negara yang mayoritas penduduknya umat Islam, sistem ekonomi syariah harus dilaksanakan sebagai sistem ekonomi yang universal, yang mengedepankan transparansi, keadilan dan good governance dalam pengelolaan usaha dan asset-asset negara. Di mana praktik ekonomi yang dijalankan berpihak pada rakyat kebanyakan dan berpihak pada kebenaran," tegas Wahyu.
Konsep syariah yang diterapkan di bank-bank sudah membuktikan, bagaimana penyaluran pembiayaan di bank syariah selalu berpihak pada sektor riil, dengan angka finance to deposit ratio yang relatif tinggi. Kehadiran bank syariah terbukti bisa diarahkan untuk mendorong tumbuhnya sektor riil, usaha kecil dan menengah yang selama ini menjadi primadona dan tulang punggung di masa krisis.
Berdasarkan data Asbisindo, total aset bank syariah saat ini sekitar Rp 12,7 triliun dengan penghimpunan dana pihak ketiga Rp 9,7 triliun dan penyaluran pada pembiayaan Rp 9,9 triliun. Dari angka tersebut, menunjukkan financing to deposit ratio (FDR, rasio pembiayaan dan dana pihak ketiga) perbankan syariah rata-rata di atas 100 persen. Dari sisi jaringan, saat ini terdapat tiga bank umum syariah dan 12 unit usaha syariah dengan jumlah kantor cabang 131, 35 kantor cabang pembantu dan 119 kantor kas. Jumlah tersebut belum termasuk jumlah BPRS yang berjumlah 86.
Perbankan syariah hanya salah satu dari sistem perekonomian Islam. Kalau konsep ekonomi syariah ini akan diterapkan, juga harus diperhatikan peranan lembaga keuangan Islami lainnya seperti peranan zakat, serta peranan lembaga dan dunia usaha Islami yang menjalankan kegiatan usahanya dengan berlandaskan etika dan moral. Contohnya, tidak ada mark-up, tidak ada laporan keuangan ganda dan sejenisnya.
Lembaga keuangan dan perbankan syariah juga tidak sekadar menjadi lembaga yang baik seperti yang dikenal sekarang ini, tapi juga harus bisa berperan sebagai penghubung antara pihak-pihak yang kelebihan dana dengan pihak-pihak yang kekurangan dana. Sehingga intermediasi juga terwujud dalam sistem perekonomian Islam.
Wakil Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Rizqullah menyatakan, potensi ekonomi berbasis syariah di Indonesia cukup besar, tapi semuanya tergantung pada kesungguhan semua pihak yang terkait dan para stakeholders yang menentukan perkembangan ekonomi syariah.
"Dukungan yang paling mendesak untuk saat ini adalah dukungan politis, political will dari pemerintah bahwa mereka sungguh-sungguh mau mendorong perekonomian yang Islami. Ini harus dimanifestasikan dengan program-program ekonomi dan kebijakan ekonomi pemerintah saat ini. Negara Malaysia bisa, kenapa kita enggak bisa, padahal potensi kita lebih besar daripada Malaysia," tambah Rizqullah. (ln)
Sumber : www.eramuslim.com
Senin, 05 April 2010
Rabu, 24 Februari 2010
data untuk laporan
Tepatnya tanggal 12 Oktober diperingati sebagai tanggal berdirinya bisnis C59 (awalnya hanya t-shirt) yang ditandai dengan pernikahan pasangan Marius Widyarto Wiwied dan Maria Goretti Murniati.
Modal usaha awalnya diperoleh dari menjual kado pernikahan mereka untuk mendapatkan satu mesin jahit dan
dua mesin obras. Model bisnis yang pertama kali dijalankan
adalah melayani pesanan/order t-shirt bergambar (sablon) dari sekolah-sekolah maupun instansi pemerintahan disekitar kota Bandung.Nama 'C59' sendiri diambil dari alamat rumah jalan Caladi no. 59. 1985
Nama C59 mulai dikenal sebagai merk produk kaos yang berkualitas, baik bahan maupun teknik sablon karet dan separasi warnanya yang unggul khususnya di Bandung dan Jakarta. 1989 C59 mulai dijual sebagai produk eceran (retail) dengan design-design original yang dibuat sendiri tetap dengan menggunakan merk C59 pada labelnya.Bisnis ini merupakan cikal bakal bisnis retail C59 selanjutnya. 1990
Upaya agar dapat mengantisipasi perkembangan usaha yang cepat,C59 membangun pabrik,dengan fasilitas yang modern bersamaan dengan dibangunnya toko retail (showroom) yang pertama
di jalan Tikukur No. 10 Bandung. 1993 - 1994 C59 berdiri secara sah sebagai perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT), dengan Bpk. Marius Widyarto Wiwied sbg Direktur Utama (sampai saat ini). Kemudian melakukan ekspansi ke beberapa kota di Indonesia, seperti: Jakarta, Balikpapan, Bali, Yogyakarta, Ujung Pandang, Medan, Padang, Lampung, Malang dengan mendirikan toko sendiri dan menjalin kerja sama dengan Ramayana Department Store sebagai saluran distribusi. 1996
PT. Caladi Lima Sembilan memperoleh penghargaan Upakarti untuk kategori Usaha Kecil Menengah (UKM). 1999
PT. Caladi Lima Sembilan (C59) memenangkan penghargaan internasional Merit Award untuk kategori tema : Kalender Terbaik (Best Calendar Theme). 2000 Pada usia yang ke-20 C59 mulai memasarkan produknya ke Eropa Tengah (Ceko, Slovakia dan Germany). Sedangkan untuk mengembangkan pasar lokal nasional, C59 menjalin kerja sama dengan Matahari Department Store. Konsep dan varian produknya juga berubah dari 'Basic t'shirt' (kaos oblong) menjadi 'Fashion Apparel' dengan segmentasi kalangan remaja usia 14-24 tahun. 2001
C59 memperoleh peringkat I (pertama) di ajang penghargaan Enterprise 50 (50 UKM Nasional terbaik) yang diselenggarkan oleh Accenture dan Majalah SWA. 2002-2003 PT. Caladi Lima Sembilan andil peran dalam trend para kawula muda, dengan mengadakan C59 Street Fiesta. Street Fiesta tersebut digelar di 3 kota besar di jawa, antara lain Bandung, Surabaya, Yogyakarta. 2004
C59 sesuai motto Express Your Style, mengekpresikan Music dalam ajang Indonesian Idol, bekerja sama dengan sebuah televisi swasta di Indonesia, RCTI dan Fremantle Media Enterprises, Ltd.
How We Do Business ? Bisnis C59 ada 2 (dua) lini bisnis yaitu Retail dan Custom Made. Retail
Bisnis C59 Retail adalah memasarkan produk C59 yang didesain,dikonsep,dicetak, dan dipasarkan oleh C59. Dengan kata lain, produk asli C59. Untuk menjawab kebutuhan pasar, maka C59 mengembangkan bisnis Retailnya dengan mendirikan showroom dan bekerjasama dengan Outlet-outlet di Indonesia yang berskala nasional(Matahari Dept.Store & Ramayana Dept.Store). Sedangkan showroom-showroom C59 tersebar dibeberapa kota di Indonesia seperti tercantum di "Our Business Location & Distribution".
Custom Made
Bisnis C59 Custom Made adalah suatu bentuk bisnis dimana Andalah pencipta ide,konsep dan desain. C59 hanyalah perantara untuk menjadikan konsep Anda atau melukiskan konsep Anda kedalam T-shirt, Jacket, Sweater, dan Asesoris. Anda melakukan proses order kepada C59. Lokasi untuk melakukan order sama seperti dalam "Our Business Location & Distribution". Lebih jelasnya silahkan lihat / klik Custom Made.
Our Business Location Distribution Kantor Pusat PT Citra Mitra Sejati PT. Caladi Lima Sembilan
Jl. Merak No. 2 Bandung 40133
Telp. 022-2507225 (hunting)
Fax. 022-2507226
Email. pusat@c59.co.id
Yogyakarta
Jl. Kesehatan B-52 Sendowo
Yogyakarta 55224
Telp & Fax. 0274-586825
Email: c59ygy@indo.net.id, tunggulpamenang@lycos.com Bandung
Jl. Tikukur No. 8 Bandung 40133
Telp. 022-2505959 (hunting)
Fax. 022-2500124
Email. c59bandung@c59.co.id
c59bdg@bdg.centrin.net.id Semarang
Pekunden Timur No.40
Semarang 50134
Telp. 024-8411565
Fax. 024-8319693
Email. cmssmg@yahoo.com, indiec59@yahoo.com
Jakarta
Duta Mas Fatmawati Blok. BI/32
Jl. RS Fatmawati No. 39 Jakarta 12150
Telp. 021-7254414 (hunting)
Fax. 021-72791271
Email. c59jakarta@c59.co.id, adadang@c59.co.id, bklestari@c59.co.id
Pondok Gede
Komplek Jatiwarna Indah
Ruko Kuning No.A6
Jl. Pondok Cemara, Sumir
Pondok Gede
Telp. 021-848-5969, 848-5970
Fax. 021-848-5971
Email. c59sumir@yahoo.com
Surabaya
Jl. Bratang Gede No.63
Surabaya
Telp. 031-5048944, 5048945, 5046773
Fax. 031-5048946
Email. bwidodo@sby.centrin.net.id bwidodo@c59.co.id Balikpapan
Komp. Balikpapan Permai Blok HI No. 1
Jl. Jend. Sudirman, Balikpapan 76114
Telp. 0542-415359
Fax. 0542-745001
Email. c59balikpapan@c59.co.id, c59brneo@indo.net.id Makassar
Jl.Abdullah Dg.Sirua No.151 B
Makassar 90321
Tlp & Fax. 0411-431736
Email: c59makassar@telkom.net Kuta Bali
Jl. Singosari No. 38, Kuta Bali
Telp. 0361-755834
Fax. 0361-762289
Email. c59bali@c59.co.id , c59bali@dps.centrin.net.id BIOGRAPHY
Name : MARIUS WIDYARTO
Nick Name : Mas Wiwied
Status : Married
Agama : Katholik
Jabatan : Direktur Utama
Pendidikan :
SD : Bajarmasin Thn.1963-1969
SMP : Aloysius Bandung 1969-1972
SMA : Aloysius Bandung 1972-1975
Universitas : Parahyangan Bandung
Fak.Ekonomi 1975-1980
Email : wiwied@c59.co.id
Prestasi dan Kegiatan :
• Mendirikan / merintis Perusahaan t-shirt C59 dari tahun 1980, sekaligus menjadi pemilik.
• Mengembangkan usaha t-shirt C59 menjadi PT.CALADI LIMA SEMBILAN di tahun 1993, dan disahkan menjadi PT di tahun 1995.
• Penghargaan Entrepreneur Award dari HIPMI tahun 1993.
• Penghargaan Upakarti dari Presiden RI Soeharto tahun 1996.
• Penghargaan Merit Award " Design Best Theme " tahun 1999.
• Penghargaan ASEAN Development Best Economic Executive Award tahun 2000.
• Penghargaan Enterprise 50 versi Majalah SWA, Accenture, HIPMI(rangkin 1) "Prestasi Terbaik Kewirausahaan" tahun 2001.
• Menjadi ketua HDCI (Harley Davidson Club Indonesia) CHAPTER Bandung.
• Menjadi penasehat ikatan-ikatan Automotive Bandung .
• Menjadi pembicara pada program "Prapurna Bakti" di PLN, PERTAMINA, BNI, Mandiri, Aneka Tambang, dan Garuda.
• Menjadi pembicara pada program Kewirausahaan untuk para santri di pesantren Daarut Tauhid (DT) pimpinan K.H Abdullah Gymnastiar (AA Gym).
• Menjadi pembicara seminar "Entrepreneurship" di Perguruan Tinggi di Indonesia, juga Entrepreneur University (EU), terutama untuk pembekalan sebelum kelulusan.
• Menjadi pembicara dalam program seminar bersama Yahya B.Sunaryo (DIREXION), Hermawan Kertajaya (MARKPLUS), Renald Khasali (SOLUSI), James Gwee (Academia), dan lain-lainnya.
Dengan pengalamannya sebagai praktisi Kewirausahaan, kami siap membagi pengalaman kami kepada Anda dalam wujud :
-- Pembekalan Kelulusan
-- Kuliah Umum
-- Pembicara SEMINAR
-- Wisata Karya
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami di :
PT. CALADI LIMA SEMBILAN
Jl.Merak No.2 Bandung 40133,Jawa Barat
Phone.+62-22-2507225 (Hunting) Ext.24
Fax.+62-22-2507226
PIC (Promotion Dept.):
Bambang "Ogenk" Hariyanto Hp.0811-220021
Asep "Sinetron" Wahyudi Hp.0815-7155959
Mario "Bross" Hp.0856-2115059
Primarindo
• Kategori:
Shoe Manufacture
• Telepon: +62 21 3148331, +62 21 3913640, +62 21 3148317, +62 21 3913652
• Email : , ,
Analisis Pergerakan Saham PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.
PROFIL PERUSAHAAN
PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian Perusahaan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-9967-HT.01.01.TH 1988 tanggal 31 Oktober 1988 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 53 tanggal 2 Juli 1991, tambahan No. 1851. Anggaran Dasar Perusahaan mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta No. 16 tanggal 23 Juni 1999 dari Notaris Raharti Sudjardjati, SH, mengenai ketentuan jabatan komisaris dan direksi perusahaan. Akta perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia sesuai Surat keputusan No. C-1183-HT.01.04.TH.2000 tanggal 2 Februari 2000.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan perusahaan meliputi bidang usaha infrastruktur dan industri. Perusahaan mulai berproduksi secara komersial pada tanggal 1 Oktober 1989. Kegiatan perusahaan dari sejak pendirian sampai saat ini meluputi industri alas kaki, khususnya produksi sepatu olah raga dan yang berhubungan dengan pengolahan bahan-bahan dasar pembuatan sepatu olah raga tersebut. Perusahaan menerima pesanan dari dan memproduksi sepatu untuk merk seperti YK, FOS International, Jason/Dockers dan Samji.
Perusahaan berdomisili di Jakarta dengan pabrik berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Kantor pusat perusahaan beralamat di Gedung Dana Pensiun – Bank Mandiri Lt. 3A,Jl. Tanjung Karang No. 3-4A, Jakarta. Jumlah karyawan perusahaan sebanyak 3.624 karyawan pada tahun 2008 dan sebanyak 3.294 karyawan pada tahun 2009.
ANALISIS SAHAM PERUSAHAAN
laporan analisis pergerakan harga saham PT PRimarindo Asia Infrastructure
Grafik pergerakan harga saham PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. mulai dari tanggal 2 Januari 2008 sampai 30 September 2009 tidak mengalami perubahan karena perusahaan tersebut tidak melakukan transaksi saham yang berada di Bursa Efek Indonesia selama periode waktu tersebut. Perusahaan seperti ini sering disebut dengan perusahaan yang sedang tidur. Menurut analisis penulis, hal ini bisa terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut.
1. Kerugian Perusahaan
Menurut laporan keuangan tahun 2008 PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. kondisi keuangan perusahaan ini mengalami kerugian sebesar Rp 21.734.768.059,- (Data terlampir). Kondisi keuangan yang seperti ini, dapat mengurangi minat investor untuk membeli saham perusahaan ini. Kondisi keuangan yang seperti ini menandakan bahwa perekonomian perusahaan Primarindo Asia Infrastructure masih belum stabil. Para investor tidak akan mengambil resiko yang terlalu besar dengan menginvestasikan uangnya di perusahaan yang tidak ada kepastian keuntungannya.
2. Produk
Dilihat dari produk yang dihasilkan, perusahaan ini kalah bersaing dengan perusahaan lain yang memproduksi merk terkenal seperti Nike, Fila, Puma, Reebok, Adidas, dan sebagainya yang diminati oleh konsumen di Indonesia. Sehingga, saham dari perusahaan ini pun kurang diminati oleh investor karena prospek perusahaan kurang menguntungkan bagi para investor.
3. Isu
Isu yang berkembang di masyarakat sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan para investor dalam memilih saham. Karena isu yang berkembang di masyarakat merupakan tolok ukur menurut cara pandang para pengamat. Sehingga, hal ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana latar belakang kinerja perusahaan tersebut. Misalnya, apa yang pernah terjadi pada perusahaan, keberhasilan perusahaan, kegagalan perusahaan, dan lainnya. Jika perusahaan diisukan buruk, terutama di bidang perekonomian perusahaan, maka investor akan segera mempertimbangkan untuk tetap bertahan dengan saham perusahaan tersebut atau segera menjual saham tersebut untuk mengurangi resiko terjadinya kerugian.
Dalam TEMPO Interaktif (Selasa, 01 Pebruari 2005 | 13:18 WIB), dituliskan bahwa Bursa Efek Jakarta (BEJ) menghentikan sementara perdagangan (suspend) efek PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. di pasar reguler mulai hari ini. “Dengan demikian, saham perseroan ini hanya dapat diperdagangkan di pasar negosiasi hingga pengumuman lebih lanjut,” papar Yose Rizal, Kepala Divisi Pencatatan Sektor Rill BEJ melalui pengumuman tertulisnya di Jakarta, Selasa (2/1). Penghentian sementara ini dilakukan karena Primarindo Asia belum membayarkan denda yang dikenakan sebesar Rp 50 juta atas keterlambatan menyampaikan laporan keuangan triwulan ketiga 2004. (Jenis perdagangan saham lihat Glosarium)
Berdasarkan pengalaman buruk yang pernah dilakukan oleh perusahaan ini, maka dapat mempengaruhi kinerja sahamnya yang berada di Bursa Efek. Karena sebelum investor memutuskan untuk membeli saham, mereka akan mencari tahu bagaimana sejarah dan perkembangan perekonomian dari perusahaan tersebut terlebih dahulu. Jika perusahaan pernah melakukan suatu kesalahan yang berdampak besar dan perusahaan tidak mampu memberikan progress yang signifikan, maka perusahaan tersebut akan kehilangan kepercayaan dari para investor dan masyarakat. Seperti halnya PT Primarindo Asia Infratructure, setelah adanya kesalahan tersebut, perusahaan masih mengalami kerugian dalam aktivitas operasi perusahaan. Sehingga, investor pun tidak akan mengambil resiko kerugian dengan membeli saham di perusahaan yang memiliki kondisi seperti ini.
4. Tidak Ada Kesepakatan Transaksi
Kesepakatan transaksi akan tercapai jika pembeli dan penjual saham menyepakati suatu harga tertentu sehingga terjadi kesepakatan harga dari kedua belah pihak. Sedangkan dari grafik dapat dilihat bahwa PT Primarindo Asia Infrastructure tidak ada volume transaksi saham, sehingga tidak pernah ada kesepakatan transaksi. Ada spekulasi bahwa PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. ingin menjual sahamnya dengan harga yang cukup tinggi dengan kondisi perusahaan yang agak buruk tersebut. Sedangkan investor tidak ingin membeli saham perusahaan yang agak buruk dengan harga minimum yang ditetapkan perusahaan. Sehingga, tidak ada kesepakatan antara keduanya dan tidak ada transaksi.
5. Bencana Global
Bencana global sangat berpengaruh terhadap pergerakan bursa saham. Bencana global merupakan bencana yang dapat mempengaruhi kegiatan bursa efek, misalnya krisis global, flu babi, dan lainnya. Dalam Vivanews hari Selasa, 28 April 2009 diberitakan bahwa flu babi mengganggu pergerakan bursa di Asia, termasuk berpengaruh terhadap melemahnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Indonesia. Dengan demikian, investor juga akan mempertimbangkan untuk tidak memilih saham perusahaan PT Primarindo Asia Infratructure Tbk. dalam menginvestasikan uangnya karena hal itu akan membawa dampak yang buruk bagi investor. Dengan pertimbangan, menurunnya IHSG, berarti ada beberapa perusahaan besar yang mengalami penurunan harga saham. Jika perusahaan besar terpengaruh terhadap bencana global tersebut, apalagi perusahaan kecil seperti PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk.
6. Pernyataan dari Perusahaan Lain
Pernyataan dari perusahaan lain juga berpengaruh terhadap perusahaan. Karena perusahaan lain akan memberikan pernyataan yang sesuai dengan kerjasama yang sudah dilakukan dengan perusahaan yang bersangkutan.
Suara Karya (Rabu, 11 April 2007) menuliskan bahwa Bursa Efek Jakarta, Selasa, memutuskan untuk menghentikan sementara (suspense) atas perdagangan saham PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk (BIMA) di seluruh pasar pada sesi pertama perdagangan, 10 April 2007. Menurut Kepala Divisi Perdagangan BEJ Suspandi, suspense tersebut dilakukan sehubungan dengan gugatan pailit dari PT Coast Rejo Indonesia (CRI) terhadap PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. “Bursa sedang meminta penjelasan tertulis kepada perseroan terkait penjelasan rinci tentang penyebab serta upaya-upaya yang dilakukan perseroan tercatat untuk menyelesaikan permasalahnya dengan kreditur,”ujarnya. Bursa meminta pihak-pihak yang berkepentingan terhadap efek perseroan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh peseroan.
Dengan adanya pernyataan tersebut, akan menjadikan pertimbangan tersendiri untuk tidak berinvestasi pada saham PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. Sehingga tidak ada investor yang membeli saham perusahaan yang terkait.
B. Nilai Tertinggi, Terendah, Rerata, dan Standar Deviasi
Berdasarkan data pada tanggal 2 Januari 2008 – 30 September 2009, maka dapat dihasilkan perhitungan sebagai berikut:
1. Nilai Tertinggi, Terendah, dan Rerata
Nilai tertinggi(high, low, closing price) = 900
Nilai terendah(high, low, closing price) = 900
Rerata (high, low, closing price) = 900
Nilai tertinggi, terendah, dan rerata (volume) = 0
Nilai tertinggi menunjukkan nilai yang paling tinggi diantara transaksi saham yang pernah dilakukan dalam periode waktu tertentu. Nilai terendah menunjukkan nilai yang paling rendah diantara transaksi saham yang pernah dilakukan dalam periode waktu tertentu. Rerata menunjukkan nilai rata-rata dari transaksi saham yang pernah dilakukan dalam periode waktu tertentu. Karena perusahaan dalam periode waktu 2 Januari 2008 – 30 September 2009 tidak melakukan transaksi saham, maka nilai tertinggi, terendah, dan rerata volume transaksi pada periode tersebut adalah 0 (nol), karena volume transaksi merupakan jumlah transaksi yang terjadi per harinya. Sedangkan nilai tertinggi, terendah, dan rerata untuk harga tertinggi, harga terendah, dan harga penutupan saham tetap sama, yaitu 900, karena tidak ada tawar menawar harga yang menimbulkan kesepakatan harga baru.
2. Standar Deviasi
Standar deviasi merupakan properti data yang menggambarkan keragaman suatu kumpulan data. Berdasarkan data pergerakan saham PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. dari 2 Januari 2008 – 30 September 2009, maka diperoleh standar deviasi:
S high price = 0
S low price = 0
S closing price = 0
S volume transaksi = 0
Hasil perhitungan standar deviasi ini menunjukkan bahwa tidak ada keragaman data pada pergerakan harga saham dan volume transaksi PT Primarindo Asia Infrastructure pada periode tersebut. Hal ini terjadi karena perusahaan ini tidak melakukan transaksi saham.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada tanggal 2 Januari 2008 – 30 September 2009 PT Primarindo Asia Infratructure Tbk. tidak ada pergerakan harga saham karena tidak pernah terjadi transaksi saham perusahaan.
GLOSARIUM
BEJ menggolongkan perdagangan Saham dalam 3 segmen pasar :
• Pasar Reguler : Pasar Reguler adalah pasar dimana perdagangan Efek di Bursa dilaksanakan berdasarkan proses tawar-menawar secara lelang yang berkesinambungan (continuous auction market) oleh Anggota Bursa Efek melalui JATS dan penyelesaiannya dilakukan pada Hari Bursa ke-3 setelah terjadinya Transaksi Bursa (T+3).
• Pasar Negosiasi : Pasar Negosiasi adalah pasar dimana perdagangan Efek di Bursa dilaksanakan berdasarkan tawar menawar langsung secara individual dan tidak secara lelang yang berkesinambungan (Non Continuous Auction Market) dan penyelesaiannya dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan Anggota Bursa Efek.
• Pasar Tunai : Pasar Reguler Tunai (Pasar Tunai) adalah pasar dimana perdagangan Efek diBursa dilaksanakan berdasarkan proses tawar-menawar secara lelang yang berkesinambungan (continuous auction market) oleh Anggota Bursa Efek melalui JATS (Jakarta Automated Trading System) dan penyelesaiannya dilakukan pada Hari Bursa yang sama dengan terjadinya Transaksi Bursa (T+0).
PT. Primarindo Asia Infrastructure, tbk (Sepatu Tomkins)
Tepatnya tanggal 12 Oktober diperingati sebagai tanggal berdirinya bisnis C59 (awalnya hanya t-shirt) yang ditandai dengan pernikahan pasangan Marius Widyarto Wiwied dan Maria Goretti Murniati.
Modal usaha awalnya diperoleh dari menjual kado pernikahan mereka untuk mendapatkan satu mesin jahit dan
dua mesin obras. Model bisnis yang pertama kali dijalankan
adalah melayani pesanan/order t-shirt bergambar (sablon) dari sekolah-sekolah maupun instansi pemerintahan disekitar kota Bandung.Nama 'C59' sendiri diambil dari alamat rumah jalan Caladi no. 59. 1985
Nama C59 mulai dikenal sebagai merk produk kaos yang berkualitas, baik bahan maupun teknik sablon karet dan separasi warnanya yang unggul khususnya di Bandung dan Jakarta. 1989 C59 mulai dijual sebagai produk eceran (retail) dengan design-design original yang dibuat sendiri tetap dengan menggunakan merk C59 pada labelnya.Bisnis ini merupakan cikal bakal bisnis retail C59 selanjutnya. 1990
Upaya agar dapat mengantisipasi perkembangan usaha yang cepat,C59 membangun pabrik,dengan fasilitas yang modern bersamaan dengan dibangunnya toko retail (showroom) yang pertama
di jalan Tikukur No. 10 Bandung. 1993 - 1994 C59 berdiri secara sah sebagai perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT), dengan Bpk. Marius Widyarto Wiwied sbg Direktur Utama (sampai saat ini). Kemudian melakukan ekspansi ke beberapa kota di Indonesia, seperti: Jakarta, Balikpapan, Bali, Yogyakarta, Ujung Pandang, Medan, Padang, Lampung, Malang dengan mendirikan toko sendiri dan menjalin kerja sama dengan Ramayana Department Store sebagai saluran distribusi. 1996
PT. Caladi Lima Sembilan memperoleh penghargaan Upakarti untuk kategori Usaha Kecil Menengah (UKM). 1999
PT. Caladi Lima Sembilan (C59) memenangkan penghargaan internasional Merit Award untuk kategori tema : Kalender Terbaik (Best Calendar Theme). 2000 Pada usia yang ke-20 C59 mulai memasarkan produknya ke Eropa Tengah (Ceko, Slovakia dan Germany). Sedangkan untuk mengembangkan pasar lokal nasional, C59 menjalin kerja sama dengan Matahari Department Store. Konsep dan varian produknya juga berubah dari 'Basic t'shirt' (kaos oblong) menjadi 'Fashion Apparel' dengan segmentasi kalangan remaja usia 14-24 tahun. 2001
C59 memperoleh peringkat I (pertama) di ajang penghargaan Enterprise 50 (50 UKM Nasional terbaik) yang diselenggarkan oleh Accenture dan Majalah SWA. 2002-2003 PT. Caladi Lima Sembilan andil peran dalam trend para kawula muda, dengan mengadakan C59 Street Fiesta. Street Fiesta tersebut digelar di 3 kota besar di jawa, antara lain Bandung, Surabaya, Yogyakarta. 2004
C59 sesuai motto Express Your Style, mengekpresikan Music dalam ajang Indonesian Idol, bekerja sama dengan sebuah televisi swasta di Indonesia, RCTI dan Fremantle Media Enterprises, Ltd.
How We Do Business ? Bisnis C59 ada 2 (dua) lini bisnis yaitu Retail dan Custom Made. Retail
Bisnis C59 Retail adalah memasarkan produk C59 yang didesain,dikonsep,dicetak, dan dipasarkan oleh C59. Dengan kata lain, produk asli C59. Untuk menjawab kebutuhan pasar, maka C59 mengembangkan bisnis Retailnya dengan mendirikan showroom dan bekerjasama dengan Outlet-outlet di Indonesia yang berskala nasional(Matahari Dept.Store & Ramayana Dept.Store). Sedangkan showroom-showroom C59 tersebar dibeberapa kota di Indonesia seperti tercantum di "Our Business Location & Distribution".
Custom Made
Bisnis C59 Custom Made adalah suatu bentuk bisnis dimana Andalah pencipta ide,konsep dan desain. C59 hanyalah perantara untuk menjadikan konsep Anda atau melukiskan konsep Anda kedalam T-shirt, Jacket, Sweater, dan Asesoris. Anda melakukan proses order kepada C59. Lokasi untuk melakukan order sama seperti dalam "Our Business Location & Distribution". Lebih jelasnya silahkan lihat / klik Custom Made.
Our Business Location Distribution Kantor Pusat PT Citra Mitra Sejati PT. Caladi Lima Sembilan
Jl. Merak No. 2 Bandung 40133
Telp. 022-2507225 (hunting)
Fax. 022-2507226
Email. pusat@c59.co.id
Yogyakarta
Jl. Kesehatan B-52 Sendowo
Yogyakarta 55224
Telp & Fax. 0274-586825
Email: c59ygy@indo.net.id, tunggulpamenang@lycos.com Bandung
Jl. Tikukur No. 8 Bandung 40133
Telp. 022-2505959 (hunting)
Fax. 022-2500124
Email. c59bandung@c59.co.id
c59bdg@bdg.centrin.net.id Semarang
Pekunden Timur No.40
Semarang 50134
Telp. 024-8411565
Fax. 024-8319693
Email. cmssmg@yahoo.com, indiec59@yahoo.com
Jakarta
Duta Mas Fatmawati Blok. BI/32
Jl. RS Fatmawati No. 39 Jakarta 12150
Telp. 021-7254414 (hunting)
Fax. 021-72791271
Email. c59jakarta@c59.co.id, adadang@c59.co.id, bklestari@c59.co.id
Pondok Gede
Komplek Jatiwarna Indah
Ruko Kuning No.A6
Jl. Pondok Cemara, Sumir
Pondok Gede
Telp. 021-848-5969, 848-5970
Fax. 021-848-5971
Email. c59sumir@yahoo.com
Surabaya
Jl. Bratang Gede No.63
Surabaya
Telp. 031-5048944, 5048945, 5046773
Fax. 031-5048946
Email. bwidodo@sby.centrin.net.id bwidodo@c59.co.id Balikpapan
Komp. Balikpapan Permai Blok HI No. 1
Jl. Jend. Sudirman, Balikpapan 76114
Telp. 0542-415359
Fax. 0542-745001
Email. c59balikpapan@c59.co.id, c59brneo@indo.net.id Makassar
Jl.Abdullah Dg.Sirua No.151 B
Makassar 90321
Tlp & Fax. 0411-431736
Email: c59makassar@telkom.net Kuta Bali
Jl. Singosari No. 38, Kuta Bali
Telp. 0361-755834
Fax. 0361-762289
Email. c59bali@c59.co.id , c59bali@dps.centrin.net.id BIOGRAPHY
Name : MARIUS WIDYARTO
Nick Name : Mas Wiwied
Status : Married
Agama : Katholik
Jabatan : Direktur Utama
Pendidikan :
SD : Bajarmasin Thn.1963-1969
SMP : Aloysius Bandung 1969-1972
SMA : Aloysius Bandung 1972-1975
Universitas : Parahyangan Bandung
Fak.Ekonomi 1975-1980
Email : wiwied@c59.co.id
Prestasi dan Kegiatan :
• Mendirikan / merintis Perusahaan t-shirt C59 dari tahun 1980, sekaligus menjadi pemilik.
• Mengembangkan usaha t-shirt C59 menjadi PT.CALADI LIMA SEMBILAN di tahun 1993, dan disahkan menjadi PT di tahun 1995.
• Penghargaan Entrepreneur Award dari HIPMI tahun 1993.
• Penghargaan Upakarti dari Presiden RI Soeharto tahun 1996.
• Penghargaan Merit Award " Design Best Theme " tahun 1999.
• Penghargaan ASEAN Development Best Economic Executive Award tahun 2000.
• Penghargaan Enterprise 50 versi Majalah SWA, Accenture, HIPMI(rangkin 1) "Prestasi Terbaik Kewirausahaan" tahun 2001.
• Menjadi ketua HDCI (Harley Davidson Club Indonesia) CHAPTER Bandung.
• Menjadi penasehat ikatan-ikatan Automotive Bandung .
• Menjadi pembicara pada program "Prapurna Bakti" di PLN, PERTAMINA, BNI, Mandiri, Aneka Tambang, dan Garuda.
• Menjadi pembicara pada program Kewirausahaan untuk para santri di pesantren Daarut Tauhid (DT) pimpinan K.H Abdullah Gymnastiar (AA Gym).
• Menjadi pembicara seminar "Entrepreneurship" di Perguruan Tinggi di Indonesia, juga Entrepreneur University (EU), terutama untuk pembekalan sebelum kelulusan.
• Menjadi pembicara dalam program seminar bersama Yahya B.Sunaryo (DIREXION), Hermawan Kertajaya (MARKPLUS), Renald Khasali (SOLUSI), James Gwee (Academia), dan lain-lainnya.
Dengan pengalamannya sebagai praktisi Kewirausahaan, kami siap membagi pengalaman kami kepada Anda dalam wujud :
-- Pembekalan Kelulusan
-- Kuliah Umum
-- Pembicara SEMINAR
-- Wisata Karya
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami di :
PT. CALADI LIMA SEMBILAN
Jl.Merak No.2 Bandung 40133,Jawa Barat
Phone.+62-22-2507225 (Hunting) Ext.24
Fax.+62-22-2507226
PIC (Promotion Dept.):
Bambang "Ogenk" Hariyanto Hp.0811-220021
Asep "Sinetron" Wahyudi Hp.0815-7155959
Mario "Bross" Hp.0856-2115059
Primarindo
• Kategori:
Shoe Manufacture
• Telepon: +62 21 3148331, +62 21 3913640, +62 21 3148317, +62 21 3913652
• Email : , ,
Analisis Pergerakan Saham PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.
PROFIL PERUSAHAAN
PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian Perusahaan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-9967-HT.01.01.TH 1988 tanggal 31 Oktober 1988 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 53 tanggal 2 Juli 1991, tambahan No. 1851. Anggaran Dasar Perusahaan mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta No. 16 tanggal 23 Juni 1999 dari Notaris Raharti Sudjardjati, SH, mengenai ketentuan jabatan komisaris dan direksi perusahaan. Akta perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia sesuai Surat keputusan No. C-1183-HT.01.04.TH.2000 tanggal 2 Februari 2000.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan perusahaan meliputi bidang usaha infrastruktur dan industri. Perusahaan mulai berproduksi secara komersial pada tanggal 1 Oktober 1989. Kegiatan perusahaan dari sejak pendirian sampai saat ini meluputi industri alas kaki, khususnya produksi sepatu olah raga dan yang berhubungan dengan pengolahan bahan-bahan dasar pembuatan sepatu olah raga tersebut. Perusahaan menerima pesanan dari dan memproduksi sepatu untuk merk seperti YK, FOS International, Jason/Dockers dan Samji.
Perusahaan berdomisili di Jakarta dengan pabrik berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Kantor pusat perusahaan beralamat di Gedung Dana Pensiun – Bank Mandiri Lt. 3A,Jl. Tanjung Karang No. 3-4A, Jakarta. Jumlah karyawan perusahaan sebanyak 3.624 karyawan pada tahun 2008 dan sebanyak 3.294 karyawan pada tahun 2009.
ANALISIS SAHAM PERUSAHAAN
laporan analisis pergerakan harga saham PT PRimarindo Asia Infrastructure
Grafik pergerakan harga saham PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. mulai dari tanggal 2 Januari 2008 sampai 30 September 2009 tidak mengalami perubahan karena perusahaan tersebut tidak melakukan transaksi saham yang berada di Bursa Efek Indonesia selama periode waktu tersebut. Perusahaan seperti ini sering disebut dengan perusahaan yang sedang tidur. Menurut analisis penulis, hal ini bisa terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut.
1. Kerugian Perusahaan
Menurut laporan keuangan tahun 2008 PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. kondisi keuangan perusahaan ini mengalami kerugian sebesar Rp 21.734.768.059,- (Data terlampir). Kondisi keuangan yang seperti ini, dapat mengurangi minat investor untuk membeli saham perusahaan ini. Kondisi keuangan yang seperti ini menandakan bahwa perekonomian perusahaan Primarindo Asia Infrastructure masih belum stabil. Para investor tidak akan mengambil resiko yang terlalu besar dengan menginvestasikan uangnya di perusahaan yang tidak ada kepastian keuntungannya.
2. Produk
Dilihat dari produk yang dihasilkan, perusahaan ini kalah bersaing dengan perusahaan lain yang memproduksi merk terkenal seperti Nike, Fila, Puma, Reebok, Adidas, dan sebagainya yang diminati oleh konsumen di Indonesia. Sehingga, saham dari perusahaan ini pun kurang diminati oleh investor karena prospek perusahaan kurang menguntungkan bagi para investor.
3. Isu
Isu yang berkembang di masyarakat sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan para investor dalam memilih saham. Karena isu yang berkembang di masyarakat merupakan tolok ukur menurut cara pandang para pengamat. Sehingga, hal ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana latar belakang kinerja perusahaan tersebut. Misalnya, apa yang pernah terjadi pada perusahaan, keberhasilan perusahaan, kegagalan perusahaan, dan lainnya. Jika perusahaan diisukan buruk, terutama di bidang perekonomian perusahaan, maka investor akan segera mempertimbangkan untuk tetap bertahan dengan saham perusahaan tersebut atau segera menjual saham tersebut untuk mengurangi resiko terjadinya kerugian.
Dalam TEMPO Interaktif (Selasa, 01 Pebruari 2005 | 13:18 WIB), dituliskan bahwa Bursa Efek Jakarta (BEJ) menghentikan sementara perdagangan (suspend) efek PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. di pasar reguler mulai hari ini. “Dengan demikian, saham perseroan ini hanya dapat diperdagangkan di pasar negosiasi hingga pengumuman lebih lanjut,” papar Yose Rizal, Kepala Divisi Pencatatan Sektor Rill BEJ melalui pengumuman tertulisnya di Jakarta, Selasa (2/1). Penghentian sementara ini dilakukan karena Primarindo Asia belum membayarkan denda yang dikenakan sebesar Rp 50 juta atas keterlambatan menyampaikan laporan keuangan triwulan ketiga 2004. (Jenis perdagangan saham lihat Glosarium)
Berdasarkan pengalaman buruk yang pernah dilakukan oleh perusahaan ini, maka dapat mempengaruhi kinerja sahamnya yang berada di Bursa Efek. Karena sebelum investor memutuskan untuk membeli saham, mereka akan mencari tahu bagaimana sejarah dan perkembangan perekonomian dari perusahaan tersebut terlebih dahulu. Jika perusahaan pernah melakukan suatu kesalahan yang berdampak besar dan perusahaan tidak mampu memberikan progress yang signifikan, maka perusahaan tersebut akan kehilangan kepercayaan dari para investor dan masyarakat. Seperti halnya PT Primarindo Asia Infratructure, setelah adanya kesalahan tersebut, perusahaan masih mengalami kerugian dalam aktivitas operasi perusahaan. Sehingga, investor pun tidak akan mengambil resiko kerugian dengan membeli saham di perusahaan yang memiliki kondisi seperti ini.
4. Tidak Ada Kesepakatan Transaksi
Kesepakatan transaksi akan tercapai jika pembeli dan penjual saham menyepakati suatu harga tertentu sehingga terjadi kesepakatan harga dari kedua belah pihak. Sedangkan dari grafik dapat dilihat bahwa PT Primarindo Asia Infrastructure tidak ada volume transaksi saham, sehingga tidak pernah ada kesepakatan transaksi. Ada spekulasi bahwa PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. ingin menjual sahamnya dengan harga yang cukup tinggi dengan kondisi perusahaan yang agak buruk tersebut. Sedangkan investor tidak ingin membeli saham perusahaan yang agak buruk dengan harga minimum yang ditetapkan perusahaan. Sehingga, tidak ada kesepakatan antara keduanya dan tidak ada transaksi.
5. Bencana Global
Bencana global sangat berpengaruh terhadap pergerakan bursa saham. Bencana global merupakan bencana yang dapat mempengaruhi kegiatan bursa efek, misalnya krisis global, flu babi, dan lainnya. Dalam Vivanews hari Selasa, 28 April 2009 diberitakan bahwa flu babi mengganggu pergerakan bursa di Asia, termasuk berpengaruh terhadap melemahnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Indonesia. Dengan demikian, investor juga akan mempertimbangkan untuk tidak memilih saham perusahaan PT Primarindo Asia Infratructure Tbk. dalam menginvestasikan uangnya karena hal itu akan membawa dampak yang buruk bagi investor. Dengan pertimbangan, menurunnya IHSG, berarti ada beberapa perusahaan besar yang mengalami penurunan harga saham. Jika perusahaan besar terpengaruh terhadap bencana global tersebut, apalagi perusahaan kecil seperti PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk.
6. Pernyataan dari Perusahaan Lain
Pernyataan dari perusahaan lain juga berpengaruh terhadap perusahaan. Karena perusahaan lain akan memberikan pernyataan yang sesuai dengan kerjasama yang sudah dilakukan dengan perusahaan yang bersangkutan.
Suara Karya (Rabu, 11 April 2007) menuliskan bahwa Bursa Efek Jakarta, Selasa, memutuskan untuk menghentikan sementara (suspense) atas perdagangan saham PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk (BIMA) di seluruh pasar pada sesi pertama perdagangan, 10 April 2007. Menurut Kepala Divisi Perdagangan BEJ Suspandi, suspense tersebut dilakukan sehubungan dengan gugatan pailit dari PT Coast Rejo Indonesia (CRI) terhadap PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. “Bursa sedang meminta penjelasan tertulis kepada perseroan terkait penjelasan rinci tentang penyebab serta upaya-upaya yang dilakukan perseroan tercatat untuk menyelesaikan permasalahnya dengan kreditur,”ujarnya. Bursa meminta pihak-pihak yang berkepentingan terhadap efek perseroan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh peseroan.
Dengan adanya pernyataan tersebut, akan menjadikan pertimbangan tersendiri untuk tidak berinvestasi pada saham PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. Sehingga tidak ada investor yang membeli saham perusahaan yang terkait.
B. Nilai Tertinggi, Terendah, Rerata, dan Standar Deviasi
Berdasarkan data pada tanggal 2 Januari 2008 – 30 September 2009, maka dapat dihasilkan perhitungan sebagai berikut:
1. Nilai Tertinggi, Terendah, dan Rerata
Nilai tertinggi(high, low, closing price) = 900
Nilai terendah(high, low, closing price) = 900
Rerata (high, low, closing price) = 900
Nilai tertinggi, terendah, dan rerata (volume) = 0
Nilai tertinggi menunjukkan nilai yang paling tinggi diantara transaksi saham yang pernah dilakukan dalam periode waktu tertentu. Nilai terendah menunjukkan nilai yang paling rendah diantara transaksi saham yang pernah dilakukan dalam periode waktu tertentu. Rerata menunjukkan nilai rata-rata dari transaksi saham yang pernah dilakukan dalam periode waktu tertentu. Karena perusahaan dalam periode waktu 2 Januari 2008 – 30 September 2009 tidak melakukan transaksi saham, maka nilai tertinggi, terendah, dan rerata volume transaksi pada periode tersebut adalah 0 (nol), karena volume transaksi merupakan jumlah transaksi yang terjadi per harinya. Sedangkan nilai tertinggi, terendah, dan rerata untuk harga tertinggi, harga terendah, dan harga penutupan saham tetap sama, yaitu 900, karena tidak ada tawar menawar harga yang menimbulkan kesepakatan harga baru.
2. Standar Deviasi
Standar deviasi merupakan properti data yang menggambarkan keragaman suatu kumpulan data. Berdasarkan data pergerakan saham PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. dari 2 Januari 2008 – 30 September 2009, maka diperoleh standar deviasi:
S high price = 0
S low price = 0
S closing price = 0
S volume transaksi = 0
Hasil perhitungan standar deviasi ini menunjukkan bahwa tidak ada keragaman data pada pergerakan harga saham dan volume transaksi PT Primarindo Asia Infrastructure pada periode tersebut. Hal ini terjadi karena perusahaan ini tidak melakukan transaksi saham.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada tanggal 2 Januari 2008 – 30 September 2009 PT Primarindo Asia Infratructure Tbk. tidak ada pergerakan harga saham karena tidak pernah terjadi transaksi saham perusahaan.
GLOSARIUM
BEJ menggolongkan perdagangan Saham dalam 3 segmen pasar :
• Pasar Reguler : Pasar Reguler adalah pasar dimana perdagangan Efek di Bursa dilaksanakan berdasarkan proses tawar-menawar secara lelang yang berkesinambungan (continuous auction market) oleh Anggota Bursa Efek melalui JATS dan penyelesaiannya dilakukan pada Hari Bursa ke-3 setelah terjadinya Transaksi Bursa (T+3).
• Pasar Negosiasi : Pasar Negosiasi adalah pasar dimana perdagangan Efek di Bursa dilaksanakan berdasarkan tawar menawar langsung secara individual dan tidak secara lelang yang berkesinambungan (Non Continuous Auction Market) dan penyelesaiannya dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan Anggota Bursa Efek.
• Pasar Tunai : Pasar Reguler Tunai (Pasar Tunai) adalah pasar dimana perdagangan Efek diBursa dilaksanakan berdasarkan proses tawar-menawar secara lelang yang berkesinambungan (continuous auction market) oleh Anggota Bursa Efek melalui JATS (Jakarta Automated Trading System) dan penyelesaiannya dilakukan pada Hari Bursa yang sama dengan terjadinya Transaksi Bursa (T+0).
PT. Primarindo Asia Infrastructure, tbk (Sepatu Tomkins)
Selasa, 19 Januari 2010
wisata
Pendahuluan
Selama dua dekade terakhir ini pembangunan pariwisata di Indonesia telah mendapat perhatian yang cukup besar dan serius dari pemerintah[3]. Kebijakan pemerintah untuk memberi kemudahan bagi masuknya wisatawan asing dan membangun sarana dan prasarana yang berkaitan dengan pariwisata juga telah mendorong pihak swasta untuk menanamkan modalnya di bidang perhotelan, restoran, biro perjalanan dan sebagainya. Berbagai potensi alam dan budaya dikemas sedemikian rupa hingga memiliki daya tarik dan layak jual kepada wisatawan domestik dan asing. Berbagai event kebudayaan yang menarik dimasukkan dalam kalender kegiatan pariwisata. Salah satu tonggaknya adalah dengan dilaksanakannya program Visit Indonesia Year pada tahun 1991. Sejak saat itu sampai tahun 2001, arus kunjungan wisatawan asing ke Indonesia dan pendapatan yang dihasilkannya cenderung terus meningkat.
Digalakkannya pembangunan pariwisata di tanah air, setidaknya dapat dihubungkan dengan tiga hal. Pertama, munculnya pemahaman dan kesadaran bahwa Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan pendapatannya kepada sektor migas. Oleh karena itu, sektor lain yang dilihat potensial dapat diandalkan untuk mendatangkan devisa secara berkelanjutan (sustainable) adalah pariwisata.[4] Harapan terhadapnya mengalirnya pemasukan devisa dari sektor pariwisata tidak hanya dari negara berkembang seperti Indonesia saja. Bahkan negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Perancis, Italia, Jerman dan Inggeris juga mendapatkan pendapatan yang signifikan dari kegiatan pariwisatanya. Hal ini dapat dipahami karena banyak orang-orang kaya dari seluruh dunia yang senang berkunjung dan berbelanja ke negara-negara tersebut.
Kedua, pariwisata dilihat sebagai sektor yang berperan penting dalam penciptaan lapangan kerja dan peluang untuk meningkatkan pendapatan dan standar hidup masyarakat. Nasikun (1991) misalnya, menunjukkan tiga tingkat dampak peluang kerja pembangunan pariwisata: (1) dampak langsung peluang kerja di dalam jenis-jenis usaha yang secara langsung menjual barang-barang dan jasa-jasa kepada wisatawan, seperti hotel, restoran, transport, dan toko-toko cendera mata, (2) dampak tidak langsung peluang kerja yang dipengaruhi oleh pengeluaran wisatawan di dalam kegiatan-kegiatan pengolahan dan distribusi yang menjual barang-barang dan jasa-jasa untuk usaha pariwisata, dan (3) peluang kerja di sektor konstruksi dan industri barang-barang modal yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata.
Merujuk kepada studi yang dilakukan de Kadt (1979) dan Smaoui (1979), Nasikun menunjukkan bahwa untuk setiap 1 (satu) tenaga kerja yang diciptakan di sektor perhotelan, sekitar 0,75 tenaga kerja ditambahkan di sektor pertanian, 1,5 tenaga kerja di sektor produksi dan penjualan barang-barang kerajinan, dan 1,1 tenaga kerja di kegiatan-kegiatan pengolahan dan distribusi yang melayani kebutuhan hotel-hotel, transportasi dan sejenisnya. Selanjutnya, di sektor konstruksi dan industri barang-barang modal, pembangunan pariwisata memberikan dampak penciptaan peluang kerja yang tidak sedikit pula. Diperkirakan bahwa untuk setiap 1 tempat tidur hotel baru yang dibangun, diperlukan sekitar 2,7 orang tenaga kerja di sektor konstruksi dan industri barang-barang modal yang melayani pariwisata.
Ketiga, mengenalkan keragaman etnik dan aneka kekayaan budayanya. Melalui kegiatan pariwisata etnik dan budaya dikenalkan sekaligus dilestarikan kekayaan tradisi suku-suku bangsa yang ada di Indonesia dan berbagai pola kehidupannya yang khas, berbagai bentuk kesenian dan kerajinan tangannya yang unik dan indah. Wisatawan akan dapat menyaksikan upacara batagak panghulu di Minangkabau, pemakaman di Tana Toraja, karapan sapi di Madura, dan sebagainya. Lebih dari itu, Sunyoto Usman (2004:53) melihat bahwa kegiatan pariwisata juga merupakan wadah interaksi kultural atau pun ajang akulturasi budaya berbagai macam etnik dan bangsa. Melalui pariwisata, kebudayaan masyarakat tradisional agraris sedemikian rupa bertemu dan berpadu dengan kebudayaan masyarakat modern industrial dan tidak jarang kemudian menciptakan produk-produk budaya baru. Bahkan dalam konteks globalisasi, pariwisata memungkinkan bertambahnya pengaruh global terhadap kultur lokal. Sekaligus juga terjadinya percampuran kultural yang dalam istilah Robertson berupa glocalization, di mana dunia global berinteraksi dengan dunia lokal untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda.[5]
Gambaran umum permasalahan
Kecenderungan meningkatnya arus kunjungan wisatawan mancanegara berikut perolehan devisanya dapat kita lihat sampai tahun 2001. Pada tahun itu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mencapai 5.153.620 orang dengan perolehan devisa sekitar 5,4 milyar USD. Namun, pada tahun 2002 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mulai mengalami sedikit penurunan tetapi dengan penurunan perolehan devisa yang cukup signifikan yakni menjadi 4,3 milyar USD. Angka-angka sesudah tahun tersebut sedikit fluktuatif, namun mencerminkan stagnannya perkembangan sektor pariwisata Indonesia. Terakhir angka tahun 2006 menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara yang berkunjung adalah 4.871.351 orang dengan perolehan devisa sekitar 4,4 milyar USD.[6]
Gejala yang hampir serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Tahun 2004 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat 76.951 orang atau meningkat secara cukup signifikan (29,97 %) dari sebelumnya di tahun 2003 yang hanya 57.283 orang. Akan tetapi, tahun 2005 wisatawan mancanegara yang berkunjung menunjukkan gejala penurunan menjadi 72.462 orang.[7] Kecenderungan yang kurang menggembirakan tersebut tampaknya terus akan berlanjut pada tahun 2007 ini. Sebagaimana diberitakan Kompas, 2 Mei 2007, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat lewat Bandara Internasional Minangkabau (BIM) selama bulan Maret 2007, turun 6,54 persen dibandingkan dengan bulan Februari 2007. Penurunan tersebut menjadi lebih tajam karena jika dibandingkan dengan Februari 2006, terjadi penurunan sebesar 19,09 persen.
Turunnya tingkat kunjungan wisatawan mancanegara tersebut berimbas pada tingkat hunian hotel berbintang di Sumatera Barat. Penurunan tingkat hunian hotel terbesar terjadi di Kota Bukittinggi yakni sebesar 13,22 persen. Sekaitan dengan itu, rata-rata lama menginap tamu asing dan nusantara di hotel berbintang selama bulan Maret 2007 di Sumatera Barat juga menurun menjadi 1,61 hari dari sebelumnya 1,82 hari pada bulan Februari 2007. Penurunan kunjungan wisatawan tersebut ternyata sudah diperkirakan Ketua Dewan Pengurus Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sumatera Barat, Asnawi Bahar. Bahkan dia memperkirakan sampai dengan bulan September 2007, industri pariwisata Sumatera Barat akan mengalami penurunan yang tajam hingga 50 persen.
Gejala penurunan statistik pariwisata secara nasional, dan khususnya Sumatera Barat, seperti di atas terasa mencemaskan, mengingat besarnya harapan terhadap keberadaan sektor pariwisata sebagai sumber devisa, penciptaan lapangan kerja, dan penggerak perekonomian lokal. Bagi Sumatera Barat kecenderungan penurunan tersebut menjadi ironi mengingat potensi pariwisatanya yang luar biasa, alamnya yang indah, budayanya yang unik, makanannya yang enak dan terkenal, dan seterusnya. Belum lagi jika dibandingkan dengan perhatian pemerintah yang besar dengan dibangunnya infrastruktur yang berkaitan dengan pariwisata seperti jalan yang tambah lebar dan mulus dan telah dioperasikannya bandara baru (BIM) sejak 2 tahun yang lalu.[8]
Secara nasional, penurunan kinerja pariwisata sebagaimana tergambar di atas dikaitkan dengan beberapa hal sebagai berikut:[9]
Pertama, kurang kondusifnya kondisi keamanan dan ketertiban dalam negeri. Aksi pemboman di Jakarta dan Bali tampaknya telah memberikan citra buruk bangsa Indonesia. Beberapa negara sempat mengeluarkan himbauan kepada warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia (travel warning). Bahkan beberapa kecelakaan transportasi khususnya pesawat terbang yang kerap terjadi sejak Januari 2007 ini, juga telah menyebabkan beberapa negara tertentu untuk menghimbau warga negaranya agar tidak bepergian dengan pesawat terbang Indonesia. Selain itu, berbagai bencana alam yang datang silih berganti, terutama di daerah tujuan wisata seperti Jakarta (banjir), Yogyakarta dan Sumatera Barat (gempa), sedikit banyak juga turut menyurutkan minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung.
Kedua, maraknya hambatan yang timbul dari berbagai regulasi baik di pusat maupun daerah sebagai dampak pelaksanaan otonomi daerah. Keadaan yang memberatkan pelaku industri pariwisata ini mengakibatkan menurunnya minat dunia usaha di dalam pengembangan objek wisata potensial dan infrastruktur yang berkenaan dengan kepariwisataan. Keinginan pemerintah daerah untuk menggenjot pendapatan asli daerah (PAD) kadangkala telah membuat beberapa pungutan atau retribusi yang tidak masuk akal dan kontra-produktif. Hal ini melesukan gairah pihak swasta dalam mengembangkan pariwisata di daerah. Sebagai contoh, baru-baru ini di Kota Padang Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) keberatan dan mengajukan protes terhadap Perda kebersihan yang menghitung biaya retribusi sampah berdasarkan meter persegi bangunan.
Ketiga, masih lemahnya pengelolaan sebagian besar daerah tujuan wisata dan aset-aset warisan budaya sehingga kurang atraktif dan kurang mampu bersaing dengan objek-objek wisata di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Keempat, belum efektifnya kelembagaan pengelolaan pemasaran dan promosi pariwisata terutama ke masyarakat internasional. Apa yang pernah disinggung Wiendu Nuryanti (1991) misalnya, tampaknya masih berlaku hingga saat ini bahwa konsep marketing pariwisata secara nasional dan provinsial belum didukung oleh penelitian-penelitian. Beberapa strategi promosi yang ditempuh diragukan efektifitasnya. Wartawan-wartawan yang dikirim ke negara lain oleh Pemda, misalnya, lebih berguna untuk mempromosikan negara yang dikunjunginya sehingga menarik warga kita untuk jadi wisatawan ke sana, ketimbang mendatangkan banyak wisatawan dari negara tersebut ke daerah kita. Harusnya Pemda bukan mengirim wartawan kita ke sana, tapi mengundang wartawan dari negara-negara yang dianggap potensial sebagai pengirim wisatawan untuk datang ke daerah kita. Begitu juga delegasi-delegasi duta wisata yang dikirim ke berbagai negara dengan biaya yang cukup besar juga dapat dipertanyakan efektifitasnya dalam mempromosikan pariwisata daerah kita.
Permasalahan seperti di atas apabila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh jelas akan membuat beratnya langkah dalam mewujudkan target pembangunan pariwisata nasional yakni meningkatnya kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa menjadi sekitar 10 miliar USD pada tahun 2009. Hal yang sama juga akan berlaku bagi Sumatera Barat yang menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 110.000 orang pada tahun 2010. Upaya mencapai target tersebut, khususnya, di Sumatera Barat akan memerlukan kerja keras dan kerja cerdas karena pengembangan dan aktivitas sektor pariwisatanya masih diwarnai dan ditandai oleh beberapa kendala sosial budaya seperti yang akan dipaparkan berikut ini. Kendala sosial budaya ini penting diatasi karena ini akan sangat berkaitan dengan kenangan yang dibawa pulang oleh wisatawan mancanegara ke negaranya. Sementara kenangan yang disampaikan kepada keluarga, dan teman-temannya adalah alat promosi yang paling ampuh untuk menjadikan orang tersebut akan datang atau tidak.
Kendala sosial budaya
Sejumlah hal negatif yang mewarnai pengelolaan pariwisata dan interaksi antara wisatawan dengan orang-orang yang bergerak di sektor pariwisata, telah menjadi kendala sosial budaya yang sering tidak disadari oleh pihak terkait, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat di daerah tujuan wisata atau sekitar objek wisata. Kalau pun disadari hal ini sering dianggap tidak terlalu penting dan kecil, akibatnya orientasi pembangunan pariwisata lebih kepada pembenahan yang bersifat fisik.[10] Sementara itu, sumberdaya manusia yang bergerak di sektor pariwisata agak terabaikan pembenahannya, terutama yang terkait dengan aspek softskill.
Hal ini penting untuk dilihat karena pariwisata adalah industri hospitality, yang maju mundurnya tergantung pada kenyamanan dan keramahan yang terpancar dalam pengelolaannya secara keseluruhan dan dapat dirasakan oleh wisatawan. Lebih dari itu, Kuntowijoyo (1991) menyebutkan bahwa industri pariwisata sebenarnya merupakan bagian dari cultural industry yang melibatkan seluruh masyarakat, sekalipun dikelola hanya oleh sebagian kecil masyarakat. Konsep tuan rumah dengan tamu dapat dipakai sebagai landasan budaya pertemuan antara masyarakat dengan wisatawan. Pertanyaannya apakah konsep-konsep di atas sudah terimplementasi secara baik dalam kegiatan kepariwisataan sehari-hari? Bagi kita di Sumatera Barat pertanyaan tersebut agaknya masih sulit dijawab secara memuaskan mengingat masih kerapnya ditemukan hal-hal seperti yang dipaparkan di bawah ini.
Pertama, budaya “mumpungisme” yang berkaitan dengan tidak adanya standar harga yang transparan dalam transakasi jasa dan barang yang terkait dengan sektor kepariwisataan. Sekeluarga wisatawan, yang baru mendarat di BIM misalnya akan segera dihadapkan dengan taksi yang tidak memakai argometer, tapi dengan harga yang ditetapkan secara borongan oleh si sopir taksi atau kesepakatan harga yang didapatkan melalui keterampilan “ago-maago”. Mumpung calon penumpang adalah wisatawan asing atau orang Jakarta yang kelihatan banyak duit, maka harga dipatok jadi tinggi. Bagi wisatawan asing dan orang Jakarta, misalnya, ini adalah suatu ketidaknyamanan yang membosankan dan melelahkan karena di tempat asalnya tarif taksi biasanya menggunakan argo.
Lepas dari persoalan tarif taksi seperti demikian, sekeluarga wisatawan tadi, misalnya, lantas pergi makan siang ke suatu rumah makan yang spesifik dengan unggulan gulai ikan yang sudah terkenal di Kota Padang. Tampilan tempatnya biasa saja, tapi makanannya enak, tapi harganya seringkali kurang masuk akal jika dibandingkan dengan tempat lain, yang tampilannya bagus-nyaman, dan makanannya juga enak.[11] Harga makanan dihitung dengan standar yang ada di dalam kepala si pelayan. Secarik kertas kecil yang ditulis untuk menghitung harga makanan yang mesti dibayar tidak menyajikan informasi yang jelas berapa harga bagi setiap makanan dan minuman yang dinikmati konsumen, kecuali angka penjumlahannya. Banyak yang menduga bahwa kendati si pelayan seolah-olah menghitung dengan melihat jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi, tetapi dalam kepalanya dia melakukan operasi penghitungan dengan melihat jumlah orang yang makan di meja tersebut lantas dikalikan dengan harga imajiner yang ada dalam kepalanya.[12]
Terkait dengan budaya “mumpungisme” di rumah makan, harga-harga yang bersifat imajiner tadi biasanya akan dinaikkan menjadi lebih mahal, apabila dilihat rombongan tamu yang datang, misalnya, kelihatan bukan orang lokal, seperti banyak duit, dan datang dengan mobil mewah atau mobil plat merah. Mereka mengabaikan atau mungkin tidak peduli, jika si konsumen atau sekeluarga wisatawan tadi merasa kemahalan dan bercerita kepada kerabat dan teman-temannya serta tidak akan datang lagi ke rumah makan tersebut.[13] Beberapa restoran atau rumah makan yang besar di Padang dan Bukittinggi memang telah mulai menggunakan standar harga yang jelas, tapi sebagian besar rumah makan atau kedai nasi lain yang punya unggulan spesifik, sampai saat ini masih bertahan dengan sistem harga imajiner.
Lepas dari pengalaman rumah makan atau kedai nasi seperti di atas, sekeluarga wisatawan di atas, misalnya, pergi membeli cendera mata atau oleh-oleh produk tekstil olahan lokal seperti kerajinan bordiran di pasa ateh Bukittinggi, namun lagi-lagi dihadapkan dengan tawaran harga yang tinggi dimana wisatawan yang menjadi calon konsumen sulit untuk menawarnya. Kendati, beda dengan di rumah makan yang mem-fait accompli konsumennya, di toko oleh-oleh ini memang pada akhirnya transaksi dilakukan melalui proses tawar menawar, namun tak urung “mumpungisme” yang menjadikan penjual menawarkan barang-barangnya dengan harga yang kelewat tinggi menjadikan kesan kurang baik pada wisatawan.
Gambaran seperti di atas, dapat dihubungkan dengan sifat “mentalitas menerabas” seperti yang pernah dikemukakan Koentjaraningrat (1984:46-47) sebagai salah satu kelemahan masyarakat Indonesia dalam masa pembangunan ini. Sifat ini digambarkannya sebagai cara untuk mendapat keuntungan dengan cara-cara yang tidak lazim atau menyikat keuntungan sebesar-besarnya mumpung ada kesempatan. Kendati diakuinya, bahwa mentalitas menerabas itu pada hakekatnya suatu sikap yang boleh dikata universal, dan ada pada hampir semua manusia dalam segala macam bentuk dan lingkungan kebudayaan di dunia, namun dalam observasinya sikap itu tampak menonjol dalam masyarakat Indonesia sekarang ini, termasuk –menurut saya—di Sumatera Barat.
Kendala sosial budaya kedua, menyangkut aspek softskill yaitu pelit senyum dan sulit mengucapkan kata terimakasih, permisi, dan maaf. Jajaran terdepan (frontliners) dari usaha-usaha di sektor pariwisata tampak tidak terbiasa dan terlatih untuk murah tersenyum dan mengucapkan ketiga kata tersebut pada waktunya. Coba kalau menginap di hotel di Padang dan Bukittinggi, misalnya, waktu roomboynya dikasih tips paling dia hanya senyum cengengesan atau sedikit mengangguk tipis, tanpa eksplisit mengucapkan terimakasih. Begitu juga saat kita membayar di kasir rumah makan. Sebaliknya, jika kita komplain terhadap pelayanan tertentu di hotel, misalnya, jarang petugasnya mengucapkan kata maaf.[14]
Kendati sering didengung-dengungkan dan dimuat di buku pelajaran sekolah bahwa salah satu ciri masyarakat Indonesia ialah ramah, namun aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari jarang ditemukan. Khusus bagi masyarakat Sumatera Barat yang umumnya merupakan etnik Minangkabau, sifat dasar mereka yang egaliter, agaknya menjadikannya sulit untuk mengekspresikan senyum maupun ketiga kata yang ampuh tadi untuk menarik dan membuat kesan positif pada wisatawan. Hal ini tidak hanya dapat diamati pada petugas atau orang yang bergerak di sektor pariwisata saja, bahkan juga dalam masyarakat umumnya. Dari pengamatan saya terhadap orang Minang, murah senyum dan mengucapkan kata terimakasih, maaf, atau permisi, secara proporsional pun tampaknya akan merendahkan dirinya di hadapan orang lain.
Hal ini berbeda dengan warga Singapura, misalnya. Menurut sosiolog Fritz E. Simanjuntak, seperti yang baru-baru ini pernah dikutip oleh Kompas, kendati warga Singapura tersebut pada dasarnya tidak ramah (ketus-ketus), namun jika dia bekerja atau bertugas di sektor hospitality dan pelayanan publik maka mereka akan menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaannya itu (profesional). Makanya kalau orang Indonesia berwisata ke Singapura, mereka senang berbelanja karena dilayani oleh pelayan toko yang murah senyum dan ramah, kendati harganya mahal. Makanya juga orang Indonesia senang berobat sambil berwisata ke Malaka dan Singapura, kecuali karena faktor hightech yang mereka tawarkan tapi lebih-lebih lagi karena hightouch yang mereka berikan.
Ketiga, adalah rendahnya budaya mutu dalam pengelolaan pariwisata kita. Mutu dalam hal ini terkait dengan kepuasan total dari pelanggan. Dalam hal ini mutu tidak hanya dilihat dari kualitas barang dan jasa yang diberikan, tapi yang tidak kalah pentingnya adalah dari bagaimana barang dan jasa tadi didelivery atau sajikan pada pelanggan. Kendati pun taksinya bagus, namun sopirnya merokok atau kabinnya bau rokok atau juga menghidupkan tip dengan lagu kegemaran sang sopir, maka penumpang tidak akan nyaman dan puas. Barangkali hanya di Padang dan Bukittinggi, kalau sering dijumpai sopir taksi yang merokok atau menghidupkan tip tanpa permisi pada penumpangnya. Contoh lain, misalnya, ketika petugas rumah makan yang menyandukkan atau menatingkan hidangan-nya kepada pelanggan sambil berbicara atau berteriak satu sama lain. Higienis dari hidangan yang disajikan bisa berkurang atau diragukan.
Kendala ketiga tersebut dapat pula dikaitkan dengan apa yang pernah disinggung oleh Koentjaraningrat (1984) tentang mentalitas yang meremehkan mutu. Penjual jasa atau barang sering telah merasa senang jika telah dapat menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan wisatawan. Namun, jarang sempat memikirkan, memantau dan mengevaluasi apakah barang atau jasa yang dijual tersebut sudah diberikan dalam mutu total terbaik yang mungkin untuk diberikan. Gejala seperti ini, lebih-lebih ada pada penjual barang dan jasa yang merasa tidak ada pesaing dan merasa sudah yang paling baik. Tidak seperti dulu, mungkin karena itu pula, misalnya, jarang rumah makan Padang saat ini yang mencantumkan motto: “Kalau puas beritahu teman, kalau tidak puas beritahu kami”.
Terakhir, dan yang tak kurang pentingnya, adalah rendahnya partisipasi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memajukan sektor pariwisata. Ikut memelihara ketertiban, kenyamanan, dan kebersihan tempat-tempat umum dan objek-objek wisata, misalnya, itu adalah bentuk partisipasi yang paling minimal yang diharapkan dan bisa berkontribusi bagi pembangunan pariwisata di Sumatera Barat. Namun, ini pun jarang ditemukan. Bahkan di beberapa tempat atau objek pariwisata, pengunjung justru merasa tidak aman karena kehadiran oknum-oknum bertampang sangar dan ikut pula mengutip uang dari pengunjung secara tidak resmi atau tanpa karcis.
Rendahnya partisipasi dalam bentuk seperti itu, sebetulnya telah menunjukkan kurangnya “sadar wisata” masyarakat. Bahkan petugas atau pelaku yang bergerak di sektor pariwisata sering tidak sadar bahwa pariwisata yang maju akan mempengaruhi perekonomian mereka dan daerahnya. Akibatnya, walaupun sebagian besar mereka orang Minang yang dikenal pintar berdagang, namun mereka tidak menunjukkan salesmanship ketika berhadapan dengan wisatawan. Kebanyakan mereka, misalnya, kelihatan gagap dan gagal untuk membuat wisatawan betah, banyak belanja, dan mengajak teman atau keluarganya yang lain untuk juga berkunjung.[15]
Penutup
Beberapa kendala sosial budaya yang dikemukakan di atas, tentu dapat ditambah termasuk contoh atau ilustrasinya. Sudah barang tentu, kendala seperti itu, tidak akan bisa di atasi oleh Dinas Pariwisata sendiri, tanpa dukungan dan keterlibatan semua pihak terkait dan masyarakat umumnya. Namun, pemerintah perlu menaruh perhatian yang serius dan besar terhadap permasalahan non-fisik seperti itu, jika tidak sulit untuk mengharapkan sektor pariwisata bisa lebih maju dan diandalkan sebagai tulang punggung perekonomian daerah Sumatera Barat.
Pemerintah daerah dan pelaku usaha sektor pariwisata perlu meningkatkan sumber daya manusia dari petugasnya terutama dalam aspek softskill sehingga membuat wisatawan betah dan memiliki kesan positif dari kunjungannya di Sumatera Barat. Selain itu, Pemda, misalnya, perlu menghimbau usaha-usaha yang terkait dengan sektor pariwisata agar berusaha dengan fair dan menghindarkan diri dari praktek-praktek budaya mumpung yang memberi keuntungan dalam jangka pendek, tapi merugikan secara jangka panjang dan menimbulkan kesan negatif atau citra buruk pariwisata Sumatera Barat.
Referensi
Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1984.
The Economist, Pocket World in Figures: 2006 Edition, Profile Books Ltd, London, 2005
Kompas, 29 April 2007.
Wiendu Nuryanti, “Perencanaan Pembangunan Pariwisata di Indonesia”, makalah pada Seminar Dampak Sosial Budaya Pengembangan Pariwisata, PAU UGM, Yogyakarta, 16-17 Desember 1991.
Kuntowijoyo, “Tinjauan Historis Pembangunan Pariwisata di Indonesia”, PAU UGM, Yogyakarta, 16-17 Desember 1991.
Nasikun, “Dampak Sosial-Budaya Pembangunan Pariwisata: Degenerasi atau Transfor-
Masi?”, PAU UGM, Yogyakarta, 16-17 Desember 1991.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2005.
Sjafri Sairin, Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi, P Pelajar, Yogyakarta, 2002.
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, Jakarta, 2005.
Sunyoto Usman, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, P Pelajar, Yk, 2004
Sapta pesona dan destinasi
Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia. Dengan dana promosi sejumlah 15 juta Dollar, angka kunjungan nasional naik dari target 6,5 juta wisatawan, dan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun). Tetangga kita Malaysia, meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun dari anggaran promosi sebesar 80 juta dollar AS. Sedang data kunjungan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1994 menurut sumber Disparda DIY berjumlah 963.995 orang meningkat jadi 1.792.000 orang (2004), dan 1,6 juta wisatawan (2005). Kenaikan angka-angka ini di tahun 2009 perlu ditingkatkan untuk kepentingan seluruh elemen wisata DIY terutama pemerintah, pelaku wisata dan warga masyarakat seluas-luasnya.
Untuk itu dapat dimengerti jika semua pihak perlu terus memahami karakter dasar industri pariwisata, baik menyangkut kesiapan sarana dan fasilitas kenyamanan, serta daya tarik Kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata. Selain tradisi, atraksi seni budaya, kuliner, kerajinan lokal, peraturan dan aneka usaha jasa pariwisata, unsur pariwisata yang patut disebut adalah peran penting Pemandu Wisata dan Buku Panduan Wisata bagi keberhasilan, kemudahan dan kenyamanan wisatawan. Namun hal paling penting adalah kesiapan seluruh warga Kota Yogyakarta sebagai ‘penerima tamu’ yang baik atas kunjungan wisatawan yang datang.
ADA APA DENGAN POKDARWIS
Dahulu masyarakat mengenal Kelompok Sadar Wisata dan merasakan pentingnya program tersebut. Mengherankan, slogan Sapta Pesona Pariwisata era Menteri Soesilo Soedarman (1989) hilang begitu saja ketika periode kementrian berakhir, dan baru muncul 19 tahun kemudian yakni Permen no. PM 04/UM 001/MKP/2008 Tentang Sadar Wisata. Program ini menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi wilayah.
Pelaksanaan Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis) bisa melalui ceramah, sarasehan, diskusi, kompetisi, percontohan dan perintisan. Ini bertujuan; (1) meningkatkan pemahaman segenap komponen masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik dalam mewujudkan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (2) Menggerakkan dan memotivasi kemampuan serta kesempatan masyarakat sebagai wisatawan untuk menggali dan mencintai tanah air.
Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis) justru mampu menjalin Multi efek kegiatan pariwisata dan dapat meningkatkan harkat warga menjadi bangsa bermartabat. Kesadaran ini mendorong semua pihak agar mau berjalan berwisata di muka bumi tempat berpijak untuk melihat jejak peradaban manusia yang tergelar (QS. siiru fil ardhi…). Demi peningkatan pembangunan bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Yogyakarta, maka adanya Pok Darwis merupakan kebutuhan bagi keberhasilan pembangunan Kota. Sudah pasti dari sini akan muncul sinergi antara Pemerintah, Pelaku Usaha Pariwisata, Akademisi, Media dan Ormas setempat.
PENGERTIAN SAPTA PESONA
Sapta Pesona merupakan jabaran konsep SADAR WISATA khususnya terkait dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah (host) dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata Kota Yogyakarta. Jabaran slogan adalah dengan mewujudkan unsur-unsur mantesih siraman:
1. AMAN
2. TERTIB
3. BERSIH
4. SEJUK
5. INDAH
6. RAMAH TAMAH
7. KENANGAN
Uraian Sapta Pesona tersebut menyatu tak terpisahkan di dalam program-program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa Nasional, pendidikan Kota, kebudayaan Bangsa, serta program kesejahteraan warga seperti berikut:
1. AMAN
o Suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberi rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan.
o Daerah tujuan wisata dengan lingkungan yang membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan.
o Menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan resiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung.
1. TERTIB
• Destinasi yang mencerminkan sikap disiplin, teratur dan profeional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan.
• Ikut serta memelihara lingkungan
• Mewujudkan Budaya Antri
• Taat aturan/ tepat waktu
• Teratur, rapi dan lancar
1. BERSIH
• Layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih, sehat hingga memberi rasa nyaman bagi kunjungan wisatawan
• Berpikiran positif pangkal hidup bersih
• Tidak asal buang sampah/ limbah
• Menjaga kebersihan Obyek Wisata
• Menjaga lingkungan yang bebas polusi
• Menyiapkan makanan yang higienis
• Berpakaian yang bersih dan rapi
1. SEJUK
• Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah bagi kunjungan wisatawan.
• Menanam pohon dan penghijauan
• Memelihara penghijauan di lingkungan tempat tinggal terutama jalur wisata
• Menjaga kondisi sejuk di area publik,restoran, penginapan dan sarana fasilitas wisata lain
1. INDAH
• Destinasi wisata yg mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum dan kesan mendalam wisatawan.
• Menjaga keindahan obyek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami
• Lingkungan tempat tinggal yang teratur, tertib dan serasi dengan karakter serta istiadat lokal
• Keindahan vegetasi dan tanaman peneduh sebagai elemen estetika lingkungan
1. RAMAH TAMAH
• Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya
• Jadi tuan rumah yang baik & rela membantu para wisatawan
• Memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan
• Bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang
• Menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus.
• Tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan
1. KENANGAN
• Kesan pengalaman di suatu Destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan membekas kenangan yang indah, hingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang
• Menggali dan mengangkat budaya lokal
• Menyajikan makanan/ minuman khas yang unik, bersih dan sehat
• Menyediakan cendera mata yang menarik
Maka mari memulai… perhatikan.. lakukan Program ini! OBYEK WISATA KOTA membutuhkan berfungsinya Kelompok SADAR WISATA!
Jika telah terbentuk Pok Darwis di wilayah Anda, berusahalah memanfaatkan Kelompok tersebut dengan mensosialisasikan program SAPTA PESONA…! Datangnya wisatawan hanyalah sarana untuk memberdayakan potensi masyarakat, dan ujungnya adalah meningkatnya ‘kesejahteraan’ warga demi hidup lebih berkualitas.
POKDARWIS KOTA MAU KEMANA
Patroli Pariwista Jogjakarta
Mengintensifkan Slogan Sapta Pesona dengan variasi agenda kegiatan Sadar Wisata dari kreativitas masyarakat adalah langkah mendesak bagi segenap elemen pariwisata. Pemerintah perlu terus memfasilitasi Gerakan ini menjadi pertemuan kedasadaran baru masyarakat, bahwa Pok Darwis bisa mengantar mereka kepada tujuan kesejahteraan dan Citra Kota yang nyaman.
Revitalisasi Sadar Wisata Menuju Kesejahteraan Warga
Program Pokdarwis memiliki dua sasaran pokok yaitu bagaimana menjadi TUAN RUMAH yang baik dan ikut menikmati kunjungan wisatawan hingga mampu meningkatkan ‘nasionalisme’ bahkan bisa merasakan menjadi wisatawan. Realisasi pokdaswis adalah dengan melaksanakan SAPTA PESONA, hingga mendorong Destinasi menjadi lebih bersaing, meningkatkan jumlah wisatawan yang datang, mendorong pembangunan lokal dan peluang kerja warga masyarakat. Dengan demikian program ini bagi masyarakat adalah demi peningkatan kesejahteraan hidup.
(Sumber: Panduan Sadar Wisata, 2008)
PENUTUP
Sosialisasi dan revitalisasi yang efektif dipaparan makalh ini perlu diwujudkan diatas kesadaran, bahwa budaya Jawa akan tetap diminati warganya, sehingga wisatawan yang datang merasakan pengalaman kunjungan selama di Yogyakarta sebagai atraksi kebudayaan yang sebenarnya dengan lingkungan sejarah dan alam yang mempesona. Mungkinkah kesadaran masyarakat seiring dengan mitra pemerintah dan wisatawan yang datang? Mari buktikan bahwa kita bisa! ***[]
Sumber Tulisan:
1. Buku Panduan Sadar Wisata, Baparda Propinsi DIY, 2008.
2. Makalah Paket Wisata Seru Wisatawan Pasti Mau, disampaikan Penulis dalam Workshop
Pengembangan Pariwisata Kota Yogyakarta bersama Dinparbud Kota Yogyakarta, di Hotel Ruba
Graha hari Selasa 19 Mei 2009.
*) Disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY pada acara Re-Organisasi POKDARWIS Kota, Dinas Pariwisata Budaya Kota Yogyakarta hari Sabtu tanggal 20 dan 27 Juni 2009 di Ruang G Beteng Vredeburg Yogyakarta.
Pendahuluan
Selama dua dekade terakhir ini pembangunan pariwisata di Indonesia telah mendapat perhatian yang cukup besar dan serius dari pemerintah[3]. Kebijakan pemerintah untuk memberi kemudahan bagi masuknya wisatawan asing dan membangun sarana dan prasarana yang berkaitan dengan pariwisata juga telah mendorong pihak swasta untuk menanamkan modalnya di bidang perhotelan, restoran, biro perjalanan dan sebagainya. Berbagai potensi alam dan budaya dikemas sedemikian rupa hingga memiliki daya tarik dan layak jual kepada wisatawan domestik dan asing. Berbagai event kebudayaan yang menarik dimasukkan dalam kalender kegiatan pariwisata. Salah satu tonggaknya adalah dengan dilaksanakannya program Visit Indonesia Year pada tahun 1991. Sejak saat itu sampai tahun 2001, arus kunjungan wisatawan asing ke Indonesia dan pendapatan yang dihasilkannya cenderung terus meningkat.
Digalakkannya pembangunan pariwisata di tanah air, setidaknya dapat dihubungkan dengan tiga hal. Pertama, munculnya pemahaman dan kesadaran bahwa Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan pendapatannya kepada sektor migas. Oleh karena itu, sektor lain yang dilihat potensial dapat diandalkan untuk mendatangkan devisa secara berkelanjutan (sustainable) adalah pariwisata.[4] Harapan terhadapnya mengalirnya pemasukan devisa dari sektor pariwisata tidak hanya dari negara berkembang seperti Indonesia saja. Bahkan negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Perancis, Italia, Jerman dan Inggeris juga mendapatkan pendapatan yang signifikan dari kegiatan pariwisatanya. Hal ini dapat dipahami karena banyak orang-orang kaya dari seluruh dunia yang senang berkunjung dan berbelanja ke negara-negara tersebut.
Kedua, pariwisata dilihat sebagai sektor yang berperan penting dalam penciptaan lapangan kerja dan peluang untuk meningkatkan pendapatan dan standar hidup masyarakat. Nasikun (1991) misalnya, menunjukkan tiga tingkat dampak peluang kerja pembangunan pariwisata: (1) dampak langsung peluang kerja di dalam jenis-jenis usaha yang secara langsung menjual barang-barang dan jasa-jasa kepada wisatawan, seperti hotel, restoran, transport, dan toko-toko cendera mata, (2) dampak tidak langsung peluang kerja yang dipengaruhi oleh pengeluaran wisatawan di dalam kegiatan-kegiatan pengolahan dan distribusi yang menjual barang-barang dan jasa-jasa untuk usaha pariwisata, dan (3) peluang kerja di sektor konstruksi dan industri barang-barang modal yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata.
Merujuk kepada studi yang dilakukan de Kadt (1979) dan Smaoui (1979), Nasikun menunjukkan bahwa untuk setiap 1 (satu) tenaga kerja yang diciptakan di sektor perhotelan, sekitar 0,75 tenaga kerja ditambahkan di sektor pertanian, 1,5 tenaga kerja di sektor produksi dan penjualan barang-barang kerajinan, dan 1,1 tenaga kerja di kegiatan-kegiatan pengolahan dan distribusi yang melayani kebutuhan hotel-hotel, transportasi dan sejenisnya. Selanjutnya, di sektor konstruksi dan industri barang-barang modal, pembangunan pariwisata memberikan dampak penciptaan peluang kerja yang tidak sedikit pula. Diperkirakan bahwa untuk setiap 1 tempat tidur hotel baru yang dibangun, diperlukan sekitar 2,7 orang tenaga kerja di sektor konstruksi dan industri barang-barang modal yang melayani pariwisata.
Ketiga, mengenalkan keragaman etnik dan aneka kekayaan budayanya. Melalui kegiatan pariwisata etnik dan budaya dikenalkan sekaligus dilestarikan kekayaan tradisi suku-suku bangsa yang ada di Indonesia dan berbagai pola kehidupannya yang khas, berbagai bentuk kesenian dan kerajinan tangannya yang unik dan indah. Wisatawan akan dapat menyaksikan upacara batagak panghulu di Minangkabau, pemakaman di Tana Toraja, karapan sapi di Madura, dan sebagainya. Lebih dari itu, Sunyoto Usman (2004:53) melihat bahwa kegiatan pariwisata juga merupakan wadah interaksi kultural atau pun ajang akulturasi budaya berbagai macam etnik dan bangsa. Melalui pariwisata, kebudayaan masyarakat tradisional agraris sedemikian rupa bertemu dan berpadu dengan kebudayaan masyarakat modern industrial dan tidak jarang kemudian menciptakan produk-produk budaya baru. Bahkan dalam konteks globalisasi, pariwisata memungkinkan bertambahnya pengaruh global terhadap kultur lokal. Sekaligus juga terjadinya percampuran kultural yang dalam istilah Robertson berupa glocalization, di mana dunia global berinteraksi dengan dunia lokal untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda.[5]
Gambaran umum permasalahan
Kecenderungan meningkatnya arus kunjungan wisatawan mancanegara berikut perolehan devisanya dapat kita lihat sampai tahun 2001. Pada tahun itu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mencapai 5.153.620 orang dengan perolehan devisa sekitar 5,4 milyar USD. Namun, pada tahun 2002 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mulai mengalami sedikit penurunan tetapi dengan penurunan perolehan devisa yang cukup signifikan yakni menjadi 4,3 milyar USD. Angka-angka sesudah tahun tersebut sedikit fluktuatif, namun mencerminkan stagnannya perkembangan sektor pariwisata Indonesia. Terakhir angka tahun 2006 menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara yang berkunjung adalah 4.871.351 orang dengan perolehan devisa sekitar 4,4 milyar USD.[6]
Gejala yang hampir serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Tahun 2004 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat 76.951 orang atau meningkat secara cukup signifikan (29,97 %) dari sebelumnya di tahun 2003 yang hanya 57.283 orang. Akan tetapi, tahun 2005 wisatawan mancanegara yang berkunjung menunjukkan gejala penurunan menjadi 72.462 orang.[7] Kecenderungan yang kurang menggembirakan tersebut tampaknya terus akan berlanjut pada tahun 2007 ini. Sebagaimana diberitakan Kompas, 2 Mei 2007, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat lewat Bandara Internasional Minangkabau (BIM) selama bulan Maret 2007, turun 6,54 persen dibandingkan dengan bulan Februari 2007. Penurunan tersebut menjadi lebih tajam karena jika dibandingkan dengan Februari 2006, terjadi penurunan sebesar 19,09 persen.
Turunnya tingkat kunjungan wisatawan mancanegara tersebut berimbas pada tingkat hunian hotel berbintang di Sumatera Barat. Penurunan tingkat hunian hotel terbesar terjadi di Kota Bukittinggi yakni sebesar 13,22 persen. Sekaitan dengan itu, rata-rata lama menginap tamu asing dan nusantara di hotel berbintang selama bulan Maret 2007 di Sumatera Barat juga menurun menjadi 1,61 hari dari sebelumnya 1,82 hari pada bulan Februari 2007. Penurunan kunjungan wisatawan tersebut ternyata sudah diperkirakan Ketua Dewan Pengurus Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sumatera Barat, Asnawi Bahar. Bahkan dia memperkirakan sampai dengan bulan September 2007, industri pariwisata Sumatera Barat akan mengalami penurunan yang tajam hingga 50 persen.
Gejala penurunan statistik pariwisata secara nasional, dan khususnya Sumatera Barat, seperti di atas terasa mencemaskan, mengingat besarnya harapan terhadap keberadaan sektor pariwisata sebagai sumber devisa, penciptaan lapangan kerja, dan penggerak perekonomian lokal. Bagi Sumatera Barat kecenderungan penurunan tersebut menjadi ironi mengingat potensi pariwisatanya yang luar biasa, alamnya yang indah, budayanya yang unik, makanannya yang enak dan terkenal, dan seterusnya. Belum lagi jika dibandingkan dengan perhatian pemerintah yang besar dengan dibangunnya infrastruktur yang berkaitan dengan pariwisata seperti jalan yang tambah lebar dan mulus dan telah dioperasikannya bandara baru (BIM) sejak 2 tahun yang lalu.[8]
Secara nasional, penurunan kinerja pariwisata sebagaimana tergambar di atas dikaitkan dengan beberapa hal sebagai berikut:[9]
Pertama, kurang kondusifnya kondisi keamanan dan ketertiban dalam negeri. Aksi pemboman di Jakarta dan Bali tampaknya telah memberikan citra buruk bangsa Indonesia. Beberapa negara sempat mengeluarkan himbauan kepada warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia (travel warning). Bahkan beberapa kecelakaan transportasi khususnya pesawat terbang yang kerap terjadi sejak Januari 2007 ini, juga telah menyebabkan beberapa negara tertentu untuk menghimbau warga negaranya agar tidak bepergian dengan pesawat terbang Indonesia. Selain itu, berbagai bencana alam yang datang silih berganti, terutama di daerah tujuan wisata seperti Jakarta (banjir), Yogyakarta dan Sumatera Barat (gempa), sedikit banyak juga turut menyurutkan minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung.
Kedua, maraknya hambatan yang timbul dari berbagai regulasi baik di pusat maupun daerah sebagai dampak pelaksanaan otonomi daerah. Keadaan yang memberatkan pelaku industri pariwisata ini mengakibatkan menurunnya minat dunia usaha di dalam pengembangan objek wisata potensial dan infrastruktur yang berkenaan dengan kepariwisataan. Keinginan pemerintah daerah untuk menggenjot pendapatan asli daerah (PAD) kadangkala telah membuat beberapa pungutan atau retribusi yang tidak masuk akal dan kontra-produktif. Hal ini melesukan gairah pihak swasta dalam mengembangkan pariwisata di daerah. Sebagai contoh, baru-baru ini di Kota Padang Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) keberatan dan mengajukan protes terhadap Perda kebersihan yang menghitung biaya retribusi sampah berdasarkan meter persegi bangunan.
Ketiga, masih lemahnya pengelolaan sebagian besar daerah tujuan wisata dan aset-aset warisan budaya sehingga kurang atraktif dan kurang mampu bersaing dengan objek-objek wisata di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Keempat, belum efektifnya kelembagaan pengelolaan pemasaran dan promosi pariwisata terutama ke masyarakat internasional. Apa yang pernah disinggung Wiendu Nuryanti (1991) misalnya, tampaknya masih berlaku hingga saat ini bahwa konsep marketing pariwisata secara nasional dan provinsial belum didukung oleh penelitian-penelitian. Beberapa strategi promosi yang ditempuh diragukan efektifitasnya. Wartawan-wartawan yang dikirim ke negara lain oleh Pemda, misalnya, lebih berguna untuk mempromosikan negara yang dikunjunginya sehingga menarik warga kita untuk jadi wisatawan ke sana, ketimbang mendatangkan banyak wisatawan dari negara tersebut ke daerah kita. Harusnya Pemda bukan mengirim wartawan kita ke sana, tapi mengundang wartawan dari negara-negara yang dianggap potensial sebagai pengirim wisatawan untuk datang ke daerah kita. Begitu juga delegasi-delegasi duta wisata yang dikirim ke berbagai negara dengan biaya yang cukup besar juga dapat dipertanyakan efektifitasnya dalam mempromosikan pariwisata daerah kita.
Permasalahan seperti di atas apabila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh jelas akan membuat beratnya langkah dalam mewujudkan target pembangunan pariwisata nasional yakni meningkatnya kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa menjadi sekitar 10 miliar USD pada tahun 2009. Hal yang sama juga akan berlaku bagi Sumatera Barat yang menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 110.000 orang pada tahun 2010. Upaya mencapai target tersebut, khususnya, di Sumatera Barat akan memerlukan kerja keras dan kerja cerdas karena pengembangan dan aktivitas sektor pariwisatanya masih diwarnai dan ditandai oleh beberapa kendala sosial budaya seperti yang akan dipaparkan berikut ini. Kendala sosial budaya ini penting diatasi karena ini akan sangat berkaitan dengan kenangan yang dibawa pulang oleh wisatawan mancanegara ke negaranya. Sementara kenangan yang disampaikan kepada keluarga, dan teman-temannya adalah alat promosi yang paling ampuh untuk menjadikan orang tersebut akan datang atau tidak.
Kendala sosial budaya
Sejumlah hal negatif yang mewarnai pengelolaan pariwisata dan interaksi antara wisatawan dengan orang-orang yang bergerak di sektor pariwisata, telah menjadi kendala sosial budaya yang sering tidak disadari oleh pihak terkait, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat di daerah tujuan wisata atau sekitar objek wisata. Kalau pun disadari hal ini sering dianggap tidak terlalu penting dan kecil, akibatnya orientasi pembangunan pariwisata lebih kepada pembenahan yang bersifat fisik.[10] Sementara itu, sumberdaya manusia yang bergerak di sektor pariwisata agak terabaikan pembenahannya, terutama yang terkait dengan aspek softskill.
Hal ini penting untuk dilihat karena pariwisata adalah industri hospitality, yang maju mundurnya tergantung pada kenyamanan dan keramahan yang terpancar dalam pengelolaannya secara keseluruhan dan dapat dirasakan oleh wisatawan. Lebih dari itu, Kuntowijoyo (1991) menyebutkan bahwa industri pariwisata sebenarnya merupakan bagian dari cultural industry yang melibatkan seluruh masyarakat, sekalipun dikelola hanya oleh sebagian kecil masyarakat. Konsep tuan rumah dengan tamu dapat dipakai sebagai landasan budaya pertemuan antara masyarakat dengan wisatawan. Pertanyaannya apakah konsep-konsep di atas sudah terimplementasi secara baik dalam kegiatan kepariwisataan sehari-hari? Bagi kita di Sumatera Barat pertanyaan tersebut agaknya masih sulit dijawab secara memuaskan mengingat masih kerapnya ditemukan hal-hal seperti yang dipaparkan di bawah ini.
Pertama, budaya “mumpungisme” yang berkaitan dengan tidak adanya standar harga yang transparan dalam transakasi jasa dan barang yang terkait dengan sektor kepariwisataan. Sekeluarga wisatawan, yang baru mendarat di BIM misalnya akan segera dihadapkan dengan taksi yang tidak memakai argometer, tapi dengan harga yang ditetapkan secara borongan oleh si sopir taksi atau kesepakatan harga yang didapatkan melalui keterampilan “ago-maago”. Mumpung calon penumpang adalah wisatawan asing atau orang Jakarta yang kelihatan banyak duit, maka harga dipatok jadi tinggi. Bagi wisatawan asing dan orang Jakarta, misalnya, ini adalah suatu ketidaknyamanan yang membosankan dan melelahkan karena di tempat asalnya tarif taksi biasanya menggunakan argo.
Lepas dari persoalan tarif taksi seperti demikian, sekeluarga wisatawan tadi, misalnya, lantas pergi makan siang ke suatu rumah makan yang spesifik dengan unggulan gulai ikan yang sudah terkenal di Kota Padang. Tampilan tempatnya biasa saja, tapi makanannya enak, tapi harganya seringkali kurang masuk akal jika dibandingkan dengan tempat lain, yang tampilannya bagus-nyaman, dan makanannya juga enak.[11] Harga makanan dihitung dengan standar yang ada di dalam kepala si pelayan. Secarik kertas kecil yang ditulis untuk menghitung harga makanan yang mesti dibayar tidak menyajikan informasi yang jelas berapa harga bagi setiap makanan dan minuman yang dinikmati konsumen, kecuali angka penjumlahannya. Banyak yang menduga bahwa kendati si pelayan seolah-olah menghitung dengan melihat jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi, tetapi dalam kepalanya dia melakukan operasi penghitungan dengan melihat jumlah orang yang makan di meja tersebut lantas dikalikan dengan harga imajiner yang ada dalam kepalanya.[12]
Terkait dengan budaya “mumpungisme” di rumah makan, harga-harga yang bersifat imajiner tadi biasanya akan dinaikkan menjadi lebih mahal, apabila dilihat rombongan tamu yang datang, misalnya, kelihatan bukan orang lokal, seperti banyak duit, dan datang dengan mobil mewah atau mobil plat merah. Mereka mengabaikan atau mungkin tidak peduli, jika si konsumen atau sekeluarga wisatawan tadi merasa kemahalan dan bercerita kepada kerabat dan teman-temannya serta tidak akan datang lagi ke rumah makan tersebut.[13] Beberapa restoran atau rumah makan yang besar di Padang dan Bukittinggi memang telah mulai menggunakan standar harga yang jelas, tapi sebagian besar rumah makan atau kedai nasi lain yang punya unggulan spesifik, sampai saat ini masih bertahan dengan sistem harga imajiner.
Lepas dari pengalaman rumah makan atau kedai nasi seperti di atas, sekeluarga wisatawan di atas, misalnya, pergi membeli cendera mata atau oleh-oleh produk tekstil olahan lokal seperti kerajinan bordiran di pasa ateh Bukittinggi, namun lagi-lagi dihadapkan dengan tawaran harga yang tinggi dimana wisatawan yang menjadi calon konsumen sulit untuk menawarnya. Kendati, beda dengan di rumah makan yang mem-fait accompli konsumennya, di toko oleh-oleh ini memang pada akhirnya transaksi dilakukan melalui proses tawar menawar, namun tak urung “mumpungisme” yang menjadikan penjual menawarkan barang-barangnya dengan harga yang kelewat tinggi menjadikan kesan kurang baik pada wisatawan.
Gambaran seperti di atas, dapat dihubungkan dengan sifat “mentalitas menerabas” seperti yang pernah dikemukakan Koentjaraningrat (1984:46-47) sebagai salah satu kelemahan masyarakat Indonesia dalam masa pembangunan ini. Sifat ini digambarkannya sebagai cara untuk mendapat keuntungan dengan cara-cara yang tidak lazim atau menyikat keuntungan sebesar-besarnya mumpung ada kesempatan. Kendati diakuinya, bahwa mentalitas menerabas itu pada hakekatnya suatu sikap yang boleh dikata universal, dan ada pada hampir semua manusia dalam segala macam bentuk dan lingkungan kebudayaan di dunia, namun dalam observasinya sikap itu tampak menonjol dalam masyarakat Indonesia sekarang ini, termasuk –menurut saya—di Sumatera Barat.
Kendala sosial budaya kedua, menyangkut aspek softskill yaitu pelit senyum dan sulit mengucapkan kata terimakasih, permisi, dan maaf. Jajaran terdepan (frontliners) dari usaha-usaha di sektor pariwisata tampak tidak terbiasa dan terlatih untuk murah tersenyum dan mengucapkan ketiga kata tersebut pada waktunya. Coba kalau menginap di hotel di Padang dan Bukittinggi, misalnya, waktu roomboynya dikasih tips paling dia hanya senyum cengengesan atau sedikit mengangguk tipis, tanpa eksplisit mengucapkan terimakasih. Begitu juga saat kita membayar di kasir rumah makan. Sebaliknya, jika kita komplain terhadap pelayanan tertentu di hotel, misalnya, jarang petugasnya mengucapkan kata maaf.[14]
Kendati sering didengung-dengungkan dan dimuat di buku pelajaran sekolah bahwa salah satu ciri masyarakat Indonesia ialah ramah, namun aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari jarang ditemukan. Khusus bagi masyarakat Sumatera Barat yang umumnya merupakan etnik Minangkabau, sifat dasar mereka yang egaliter, agaknya menjadikannya sulit untuk mengekspresikan senyum maupun ketiga kata yang ampuh tadi untuk menarik dan membuat kesan positif pada wisatawan. Hal ini tidak hanya dapat diamati pada petugas atau orang yang bergerak di sektor pariwisata saja, bahkan juga dalam masyarakat umumnya. Dari pengamatan saya terhadap orang Minang, murah senyum dan mengucapkan kata terimakasih, maaf, atau permisi, secara proporsional pun tampaknya akan merendahkan dirinya di hadapan orang lain.
Hal ini berbeda dengan warga Singapura, misalnya. Menurut sosiolog Fritz E. Simanjuntak, seperti yang baru-baru ini pernah dikutip oleh Kompas, kendati warga Singapura tersebut pada dasarnya tidak ramah (ketus-ketus), namun jika dia bekerja atau bertugas di sektor hospitality dan pelayanan publik maka mereka akan menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaannya itu (profesional). Makanya kalau orang Indonesia berwisata ke Singapura, mereka senang berbelanja karena dilayani oleh pelayan toko yang murah senyum dan ramah, kendati harganya mahal. Makanya juga orang Indonesia senang berobat sambil berwisata ke Malaka dan Singapura, kecuali karena faktor hightech yang mereka tawarkan tapi lebih-lebih lagi karena hightouch yang mereka berikan.
Ketiga, adalah rendahnya budaya mutu dalam pengelolaan pariwisata kita. Mutu dalam hal ini terkait dengan kepuasan total dari pelanggan. Dalam hal ini mutu tidak hanya dilihat dari kualitas barang dan jasa yang diberikan, tapi yang tidak kalah pentingnya adalah dari bagaimana barang dan jasa tadi didelivery atau sajikan pada pelanggan. Kendati pun taksinya bagus, namun sopirnya merokok atau kabinnya bau rokok atau juga menghidupkan tip dengan lagu kegemaran sang sopir, maka penumpang tidak akan nyaman dan puas. Barangkali hanya di Padang dan Bukittinggi, kalau sering dijumpai sopir taksi yang merokok atau menghidupkan tip tanpa permisi pada penumpangnya. Contoh lain, misalnya, ketika petugas rumah makan yang menyandukkan atau menatingkan hidangan-nya kepada pelanggan sambil berbicara atau berteriak satu sama lain. Higienis dari hidangan yang disajikan bisa berkurang atau diragukan.
Kendala ketiga tersebut dapat pula dikaitkan dengan apa yang pernah disinggung oleh Koentjaraningrat (1984) tentang mentalitas yang meremehkan mutu. Penjual jasa atau barang sering telah merasa senang jika telah dapat menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan wisatawan. Namun, jarang sempat memikirkan, memantau dan mengevaluasi apakah barang atau jasa yang dijual tersebut sudah diberikan dalam mutu total terbaik yang mungkin untuk diberikan. Gejala seperti ini, lebih-lebih ada pada penjual barang dan jasa yang merasa tidak ada pesaing dan merasa sudah yang paling baik. Tidak seperti dulu, mungkin karena itu pula, misalnya, jarang rumah makan Padang saat ini yang mencantumkan motto: “Kalau puas beritahu teman, kalau tidak puas beritahu kami”.
Terakhir, dan yang tak kurang pentingnya, adalah rendahnya partisipasi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memajukan sektor pariwisata. Ikut memelihara ketertiban, kenyamanan, dan kebersihan tempat-tempat umum dan objek-objek wisata, misalnya, itu adalah bentuk partisipasi yang paling minimal yang diharapkan dan bisa berkontribusi bagi pembangunan pariwisata di Sumatera Barat. Namun, ini pun jarang ditemukan. Bahkan di beberapa tempat atau objek pariwisata, pengunjung justru merasa tidak aman karena kehadiran oknum-oknum bertampang sangar dan ikut pula mengutip uang dari pengunjung secara tidak resmi atau tanpa karcis.
Rendahnya partisipasi dalam bentuk seperti itu, sebetulnya telah menunjukkan kurangnya “sadar wisata” masyarakat. Bahkan petugas atau pelaku yang bergerak di sektor pariwisata sering tidak sadar bahwa pariwisata yang maju akan mempengaruhi perekonomian mereka dan daerahnya. Akibatnya, walaupun sebagian besar mereka orang Minang yang dikenal pintar berdagang, namun mereka tidak menunjukkan salesmanship ketika berhadapan dengan wisatawan. Kebanyakan mereka, misalnya, kelihatan gagap dan gagal untuk membuat wisatawan betah, banyak belanja, dan mengajak teman atau keluarganya yang lain untuk juga berkunjung.[15]
Penutup
Beberapa kendala sosial budaya yang dikemukakan di atas, tentu dapat ditambah termasuk contoh atau ilustrasinya. Sudah barang tentu, kendala seperti itu, tidak akan bisa di atasi oleh Dinas Pariwisata sendiri, tanpa dukungan dan keterlibatan semua pihak terkait dan masyarakat umumnya. Namun, pemerintah perlu menaruh perhatian yang serius dan besar terhadap permasalahan non-fisik seperti itu, jika tidak sulit untuk mengharapkan sektor pariwisata bisa lebih maju dan diandalkan sebagai tulang punggung perekonomian daerah Sumatera Barat.
Pemerintah daerah dan pelaku usaha sektor pariwisata perlu meningkatkan sumber daya manusia dari petugasnya terutama dalam aspek softskill sehingga membuat wisatawan betah dan memiliki kesan positif dari kunjungannya di Sumatera Barat. Selain itu, Pemda, misalnya, perlu menghimbau usaha-usaha yang terkait dengan sektor pariwisata agar berusaha dengan fair dan menghindarkan diri dari praktek-praktek budaya mumpung yang memberi keuntungan dalam jangka pendek, tapi merugikan secara jangka panjang dan menimbulkan kesan negatif atau citra buruk pariwisata Sumatera Barat.
Referensi
Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1984.
The Economist, Pocket World in Figures: 2006 Edition, Profile Books Ltd, London, 2005
Kompas, 29 April 2007.
Wiendu Nuryanti, “Perencanaan Pembangunan Pariwisata di Indonesia”, makalah pada Seminar Dampak Sosial Budaya Pengembangan Pariwisata, PAU UGM, Yogyakarta, 16-17 Desember 1991.
Kuntowijoyo, “Tinjauan Historis Pembangunan Pariwisata di Indonesia”, PAU UGM, Yogyakarta, 16-17 Desember 1991.
Nasikun, “Dampak Sosial-Budaya Pembangunan Pariwisata: Degenerasi atau Transfor-
Masi?”, PAU UGM, Yogyakarta, 16-17 Desember 1991.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2005.
Sjafri Sairin, Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi, P Pelajar, Yogyakarta, 2002.
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, Jakarta, 2005.
Sunyoto Usman, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, P Pelajar, Yk, 2004
Sapta pesona dan destinasi
Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia. Dengan dana promosi sejumlah 15 juta Dollar, angka kunjungan nasional naik dari target 6,5 juta wisatawan, dan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun). Tetangga kita Malaysia, meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun dari anggaran promosi sebesar 80 juta dollar AS. Sedang data kunjungan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1994 menurut sumber Disparda DIY berjumlah 963.995 orang meningkat jadi 1.792.000 orang (2004), dan 1,6 juta wisatawan (2005). Kenaikan angka-angka ini di tahun 2009 perlu ditingkatkan untuk kepentingan seluruh elemen wisata DIY terutama pemerintah, pelaku wisata dan warga masyarakat seluas-luasnya.
Untuk itu dapat dimengerti jika semua pihak perlu terus memahami karakter dasar industri pariwisata, baik menyangkut kesiapan sarana dan fasilitas kenyamanan, serta daya tarik Kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata. Selain tradisi, atraksi seni budaya, kuliner, kerajinan lokal, peraturan dan aneka usaha jasa pariwisata, unsur pariwisata yang patut disebut adalah peran penting Pemandu Wisata dan Buku Panduan Wisata bagi keberhasilan, kemudahan dan kenyamanan wisatawan. Namun hal paling penting adalah kesiapan seluruh warga Kota Yogyakarta sebagai ‘penerima tamu’ yang baik atas kunjungan wisatawan yang datang.
ADA APA DENGAN POKDARWIS
Dahulu masyarakat mengenal Kelompok Sadar Wisata dan merasakan pentingnya program tersebut. Mengherankan, slogan Sapta Pesona Pariwisata era Menteri Soesilo Soedarman (1989) hilang begitu saja ketika periode kementrian berakhir, dan baru muncul 19 tahun kemudian yakni Permen no. PM 04/UM 001/MKP/2008 Tentang Sadar Wisata. Program ini menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi wilayah.
Pelaksanaan Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis) bisa melalui ceramah, sarasehan, diskusi, kompetisi, percontohan dan perintisan. Ini bertujuan; (1) meningkatkan pemahaman segenap komponen masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik dalam mewujudkan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (2) Menggerakkan dan memotivasi kemampuan serta kesempatan masyarakat sebagai wisatawan untuk menggali dan mencintai tanah air.
Kelompok Sadar Wisata (Pok Darwis) justru mampu menjalin Multi efek kegiatan pariwisata dan dapat meningkatkan harkat warga menjadi bangsa bermartabat. Kesadaran ini mendorong semua pihak agar mau berjalan berwisata di muka bumi tempat berpijak untuk melihat jejak peradaban manusia yang tergelar (QS. siiru fil ardhi…). Demi peningkatan pembangunan bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Yogyakarta, maka adanya Pok Darwis merupakan kebutuhan bagi keberhasilan pembangunan Kota. Sudah pasti dari sini akan muncul sinergi antara Pemerintah, Pelaku Usaha Pariwisata, Akademisi, Media dan Ormas setempat.
PENGERTIAN SAPTA PESONA
Sapta Pesona merupakan jabaran konsep SADAR WISATA khususnya terkait dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah (host) dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata Kota Yogyakarta. Jabaran slogan adalah dengan mewujudkan unsur-unsur mantesih siraman:
1. AMAN
2. TERTIB
3. BERSIH
4. SEJUK
5. INDAH
6. RAMAH TAMAH
7. KENANGAN
Uraian Sapta Pesona tersebut menyatu tak terpisahkan di dalam program-program pembangunan kepariwisataan sebagai sektor andalan devisa Nasional, pendidikan Kota, kebudayaan Bangsa, serta program kesejahteraan warga seperti berikut:
1. AMAN
o Suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberi rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan.
o Daerah tujuan wisata dengan lingkungan yang membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan.
o Menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan resiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung.
1. TERTIB
• Destinasi yang mencerminkan sikap disiplin, teratur dan profeional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan.
• Ikut serta memelihara lingkungan
• Mewujudkan Budaya Antri
• Taat aturan/ tepat waktu
• Teratur, rapi dan lancar
1. BERSIH
• Layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih, sehat hingga memberi rasa nyaman bagi kunjungan wisatawan
• Berpikiran positif pangkal hidup bersih
• Tidak asal buang sampah/ limbah
• Menjaga kebersihan Obyek Wisata
• Menjaga lingkungan yang bebas polusi
• Menyiapkan makanan yang higienis
• Berpakaian yang bersih dan rapi
1. SEJUK
• Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah bagi kunjungan wisatawan.
• Menanam pohon dan penghijauan
• Memelihara penghijauan di lingkungan tempat tinggal terutama jalur wisata
• Menjaga kondisi sejuk di area publik,restoran, penginapan dan sarana fasilitas wisata lain
1. INDAH
• Destinasi wisata yg mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum dan kesan mendalam wisatawan.
• Menjaga keindahan obyek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami
• Lingkungan tempat tinggal yang teratur, tertib dan serasi dengan karakter serta istiadat lokal
• Keindahan vegetasi dan tanaman peneduh sebagai elemen estetika lingkungan
1. RAMAH TAMAH
• Sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima hingga wisatawan betah atas kunjungannya
• Jadi tuan rumah yang baik & rela membantu para wisatawan
• Memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan
• Bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang
• Menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus.
• Tidak mengharapkan sesuatu atas jasa telah yang diberikan
1. KENANGAN
• Kesan pengalaman di suatu Destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan membekas kenangan yang indah, hingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang
• Menggali dan mengangkat budaya lokal
• Menyajikan makanan/ minuman khas yang unik, bersih dan sehat
• Menyediakan cendera mata yang menarik
Maka mari memulai… perhatikan.. lakukan Program ini! OBYEK WISATA KOTA membutuhkan berfungsinya Kelompok SADAR WISATA!
Jika telah terbentuk Pok Darwis di wilayah Anda, berusahalah memanfaatkan Kelompok tersebut dengan mensosialisasikan program SAPTA PESONA…! Datangnya wisatawan hanyalah sarana untuk memberdayakan potensi masyarakat, dan ujungnya adalah meningkatnya ‘kesejahteraan’ warga demi hidup lebih berkualitas.
POKDARWIS KOTA MAU KEMANA
Patroli Pariwista Jogjakarta
Mengintensifkan Slogan Sapta Pesona dengan variasi agenda kegiatan Sadar Wisata dari kreativitas masyarakat adalah langkah mendesak bagi segenap elemen pariwisata. Pemerintah perlu terus memfasilitasi Gerakan ini menjadi pertemuan kedasadaran baru masyarakat, bahwa Pok Darwis bisa mengantar mereka kepada tujuan kesejahteraan dan Citra Kota yang nyaman.
Revitalisasi Sadar Wisata Menuju Kesejahteraan Warga
Program Pokdarwis memiliki dua sasaran pokok yaitu bagaimana menjadi TUAN RUMAH yang baik dan ikut menikmati kunjungan wisatawan hingga mampu meningkatkan ‘nasionalisme’ bahkan bisa merasakan menjadi wisatawan. Realisasi pokdaswis adalah dengan melaksanakan SAPTA PESONA, hingga mendorong Destinasi menjadi lebih bersaing, meningkatkan jumlah wisatawan yang datang, mendorong pembangunan lokal dan peluang kerja warga masyarakat. Dengan demikian program ini bagi masyarakat adalah demi peningkatan kesejahteraan hidup.
(Sumber: Panduan Sadar Wisata, 2008)
PENUTUP
Sosialisasi dan revitalisasi yang efektif dipaparan makalh ini perlu diwujudkan diatas kesadaran, bahwa budaya Jawa akan tetap diminati warganya, sehingga wisatawan yang datang merasakan pengalaman kunjungan selama di Yogyakarta sebagai atraksi kebudayaan yang sebenarnya dengan lingkungan sejarah dan alam yang mempesona. Mungkinkah kesadaran masyarakat seiring dengan mitra pemerintah dan wisatawan yang datang? Mari buktikan bahwa kita bisa! ***[]
Sumber Tulisan:
1. Buku Panduan Sadar Wisata, Baparda Propinsi DIY, 2008.
2. Makalah Paket Wisata Seru Wisatawan Pasti Mau, disampaikan Penulis dalam Workshop
Pengembangan Pariwisata Kota Yogyakarta bersama Dinparbud Kota Yogyakarta, di Hotel Ruba
Graha hari Selasa 19 Mei 2009.
*) Disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY pada acara Re-Organisasi POKDARWIS Kota, Dinas Pariwisata Budaya Kota Yogyakarta hari Sabtu tanggal 20 dan 27 Juni 2009 di Ruang G Beteng Vredeburg Yogyakarta.
PELATIHAN/PENYULUHAN SADAR WISATA DAN SAPTA PESONA
PENGERTIAN
• WISATA : Kegiatan sukarela, sementara
• WISATAWAN : orang yang melakukan perjalanan
• PARIWISATA : usaha obyek wisata dan usaha terkait lainnya
• KEPARIWISATAAN : yang berhubungan dengan pariwisata.
• USAHA PARIWISATA : usaha jasa dan sarana pariwisata
• OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA : Sasaran wisata
KARAKTER KETERKAITAN LINTAS SEKTOR KEPARIWISATAAN YANG MEMBANGKITKAN DAMPAK MULTI GANDA SANGAT BERARTI
Menggerakkan ekonomi rakyat (dampak multi ganda,
Produk tersebar di seluruh pelosok nusantara, termasuk daerah miskin dan terpencil)
Mampu menggerakkan kekuatan antar sektor
SPEKTRUM DAMPAK PENGGANDA PARIWISATA (MULTIPLIER EFFECT)
DAMPAK TAK LANGSUNG
Karyawan hotel, restoran, BPW, ODTW, dsb.
Supir angkt. Umum
Pemerintah (pajak)
Pengrajin cinderamata
Pompa bensin
Penjual sayuran, buah & bahan makanan
Seniman iklan
Percetakan
DAMPAK LANGSUNG
Hotel
Guide
Restoran
ODTW
Perush Airline
Perush Angkt
Galleri/art shop
BPW
Jasa keuangan DAMPAK IKUTAN
Petani sayuran, bunga dan buah
Peternak ayam, ikan dan sapi
Penghasil bahan baku kerajinan
Sektor industri & perdagangan
Sektor agribisnis
DAMPAK PENGEMBANGAN PARIWISATA
Meningkatnya PAD
Terstimulasinya perekonomian lokal
Terjadinya keseimbangan perdagangan
Terciptanya lapangan kerja
Terpromosinya produk lokal
Membantu berkembangnya produk unggulan daerah
Meningkatnya arus transportasi
Meningkatnya hunian akomodasi
Meningkatnya kebutuhan pokok (konsumsi makanan)
Meningkatnya kunjungan ke ODTW
Meningkatkan rasa toleransi antar daerah/negara
Terciptanya kelestarian budaya dan alam
Meningkatnya kesejahtraan masyarakat
DAMPAK PENGEMBANGAN PARIWISATA
Kebocoran PAD
Perubahan kebiasaan masyarakat lokal
Perubahan sikap benci,rakus,cemburu
Timbulnya ancaman kriminal
Timbulnya ancaman prostitusi
Beredarnya obat terlarang
Berkurangnya sumberdaya alam
Meningkatnya produksi limbah
Rusaknya lingkungan
Terjadinya distorsi budaya
USAHA PARIWISATA MENCAKUP
• Biro /Agen Perjalanan Wisata
• Akomodasi (Hotel, resort, desa wisata dll)
• Transportasi (Laut,darat, udara)
• Restoran (Makanan Tradisional,Eropa, dll)
• Hiburan (Pagelaran seni, musik, dll)
• Pengusahaan Obyek daya tarik wisata
• Wisata tirta
• Penyediaan pemandu wisata
• Informasi wisata
APA POTENSI PARIWISATA KOTA MAKASSAR?
• 12 Pulau yang indah – Wisata Bahari
• 27 Bentuk Bungker Jepang, Museum, Makam, Monumen – Sejarah
• 2 Benteng utama Pesisir Pantai – Wisata Sejarah
• Keaneka ragaman ritual dan pesta adat festival, sanggar seni dari 4 etnis SulSel- SelBar dan dari daerah lainnya di Indonesia ditambah Tionghoa, India dan Arab – Wisata Budaya
• 8 hotel bintang dengan kapasitas kurang lebih 2000 kamar,12 ribu kursi restoran,10 ribu kursi (meeting,convention)+ Triple C dan 3 tempat pameran – Wisata MICE
• 6 Mall besar + Somba opu sebagai pusat perbelanjaan cendramata – Wisata Belanja
• 7 Universitas terkemuka dikawasan timur Indonesia – Wisata Pendidikan
• 5 Rumah sakit utama untuk wisata kesehatan lainnya – Medical Tourism
• Sungai yang melintas dan membelah kota Makassar
3 KATA YANG HARUS DI HINDARI :
Tidak Ada
Tidak Tau
Habis 3 KATA YANG HARUS DIINGAT :
Senyum
Salam
Sapa
APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN DALAM MELAYANI WISATAWAN ?
7 DAYA TARIK – 7 K (SAPTA PESONA)
AMAN
TERTIB
BERSIH
SEJUK
INDAH
RAMAH TAMAH
KENANGAN
PEMAHAMAN SAPTA PESONA
• AMAN
Aparat keamanan dan masyarakat mampu membina dan menjaga.Terciptanya suasana aman dan tentram baik terhadap jiwa maupun harta benda Wisatawan
• TERTIB
Aparat keamanan dan masyarakat mampu membina masyarakat lainnya. Dan wisatawan untuk memelihara ketertiban umum, seperti tertib dijalan,Terib Parkir disiplin melaksanakan pelayanan.
• BERSIH
Aparat dan masyarakat mampu menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri,dirumah dan di tempat kerja. Kebersihan ditempat wisata dan penyediaan tempat sampah.
• SEJUK
Semua unsur pejabat dan masyarakat menciptakan suasana segar dan nyaman dengan upaya menata lingkungan penghijauan demi kepentingan Bersama
• INDAH
Semua unsur pejabat pemerintah dan masyarakat sadar akan kebersihan lingkungan tidak membiarkan sampah berserakan namun sebaliknya dapat ditata dan dimanfaatkan menjadi produk rumah tangga.
• RAMAH
Semua unsur termasuk masyarakat harus mampu memberikan pelayanan yang ramah tamah dengan senyum dapat menjadi kesan yang tak terlupakan.
• KENANGAN
Semua unsur pariwisata harus mampu memberikan kenangan yang baik kepada wisatawan dengan memproduksi kerajianan rumah tangga sebagai cendramata bagi wisatawan untuk menjadi kenangan pulang kerumah
PENINGKATAN PAD (PARIWISATA) KOTA MAKASSAR
PENGERTIAN
• WISATA : Kegiatan sukarela, sementara
• WISATAWAN : orang yang melakukan perjalanan
• PARIWISATA : usaha obyek wisata dan usaha terkait lainnya
• KEPARIWISATAAN : yang berhubungan dengan pariwisata.
• USAHA PARIWISATA : usaha jasa dan sarana pariwisata
• OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA : Sasaran wisata
KARAKTER KETERKAITAN LINTAS SEKTOR KEPARIWISATAAN YANG MEMBANGKITKAN DAMPAK MULTI GANDA SANGAT BERARTI
Menggerakkan ekonomi rakyat (dampak multi ganda,
Produk tersebar di seluruh pelosok nusantara, termasuk daerah miskin dan terpencil)
Mampu menggerakkan kekuatan antar sektor
SPEKTRUM DAMPAK PENGGANDA PARIWISATA (MULTIPLIER EFFECT)
DAMPAK TAK LANGSUNG
Karyawan hotel, restoran, BPW, ODTW, dsb.
Supir angkt. Umum
Pemerintah (pajak)
Pengrajin cinderamata
Pompa bensin
Penjual sayuran, buah & bahan makanan
Seniman iklan
Percetakan
DAMPAK LANGSUNG
Hotel
Guide
Restoran
ODTW
Perush Airline
Perush Angkt
Galleri/art shop
BPW
Jasa keuangan DAMPAK IKUTAN
Petani sayuran, bunga dan buah
Peternak ayam, ikan dan sapi
Penghasil bahan baku kerajinan
Sektor industri & perdagangan
Sektor agribisnis
DAMPAK PENGEMBANGAN PARIWISATA
Meningkatnya PAD
Terstimulasinya perekonomian lokal
Terjadinya keseimbangan perdagangan
Terciptanya lapangan kerja
Terpromosinya produk lokal
Membantu berkembangnya produk unggulan daerah
Meningkatnya arus transportasi
Meningkatnya hunian akomodasi
Meningkatnya kebutuhan pokok (konsumsi makanan)
Meningkatnya kunjungan ke ODTW
Meningkatkan rasa toleransi antar daerah/negara
Terciptanya kelestarian budaya dan alam
Meningkatnya kesejahtraan masyarakat
DAMPAK PENGEMBANGAN PARIWISATA
Kebocoran PAD
Perubahan kebiasaan masyarakat lokal
Perubahan sikap benci,rakus,cemburu
Timbulnya ancaman kriminal
Timbulnya ancaman prostitusi
Beredarnya obat terlarang
Berkurangnya sumberdaya alam
Meningkatnya produksi limbah
Rusaknya lingkungan
Terjadinya distorsi budaya
USAHA PARIWISATA MENCAKUP
• Biro /Agen Perjalanan Wisata
• Akomodasi (Hotel, resort, desa wisata dll)
• Transportasi (Laut,darat, udara)
• Restoran (Makanan Tradisional,Eropa, dll)
• Hiburan (Pagelaran seni, musik, dll)
• Pengusahaan Obyek daya tarik wisata
• Wisata tirta
• Penyediaan pemandu wisata
• Informasi wisata
APA POTENSI PARIWISATA KOTA MAKASSAR?
• 12 Pulau yang indah – Wisata Bahari
• 27 Bentuk Bungker Jepang, Museum, Makam, Monumen – Sejarah
• 2 Benteng utama Pesisir Pantai – Wisata Sejarah
• Keaneka ragaman ritual dan pesta adat festival, sanggar seni dari 4 etnis SulSel- SelBar dan dari daerah lainnya di Indonesia ditambah Tionghoa, India dan Arab – Wisata Budaya
• 8 hotel bintang dengan kapasitas kurang lebih 2000 kamar,12 ribu kursi restoran,10 ribu kursi (meeting,convention)+ Triple C dan 3 tempat pameran – Wisata MICE
• 6 Mall besar + Somba opu sebagai pusat perbelanjaan cendramata – Wisata Belanja
• 7 Universitas terkemuka dikawasan timur Indonesia – Wisata Pendidikan
• 5 Rumah sakit utama untuk wisata kesehatan lainnya – Medical Tourism
• Sungai yang melintas dan membelah kota Makassar
3 KATA YANG HARUS DI HINDARI :
Tidak Ada
Tidak Tau
Habis 3 KATA YANG HARUS DIINGAT :
Senyum
Salam
Sapa
APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN DALAM MELAYANI WISATAWAN ?
7 DAYA TARIK – 7 K (SAPTA PESONA)
AMAN
TERTIB
BERSIH
SEJUK
INDAH
RAMAH TAMAH
KENANGAN
PEMAHAMAN SAPTA PESONA
• AMAN
Aparat keamanan dan masyarakat mampu membina dan menjaga.Terciptanya suasana aman dan tentram baik terhadap jiwa maupun harta benda Wisatawan
• TERTIB
Aparat keamanan dan masyarakat mampu membina masyarakat lainnya. Dan wisatawan untuk memelihara ketertiban umum, seperti tertib dijalan,Terib Parkir disiplin melaksanakan pelayanan.
• BERSIH
Aparat dan masyarakat mampu menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri,dirumah dan di tempat kerja. Kebersihan ditempat wisata dan penyediaan tempat sampah.
• SEJUK
Semua unsur pejabat dan masyarakat menciptakan suasana segar dan nyaman dengan upaya menata lingkungan penghijauan demi kepentingan Bersama
• INDAH
Semua unsur pejabat pemerintah dan masyarakat sadar akan kebersihan lingkungan tidak membiarkan sampah berserakan namun sebaliknya dapat ditata dan dimanfaatkan menjadi produk rumah tangga.
• RAMAH
Semua unsur termasuk masyarakat harus mampu memberikan pelayanan yang ramah tamah dengan senyum dapat menjadi kesan yang tak terlupakan.
• KENANGAN
Semua unsur pariwisata harus mampu memberikan kenangan yang baik kepada wisatawan dengan memproduksi kerajianan rumah tangga sebagai cendramata bagi wisatawan untuk menjadi kenangan pulang kerumah
PENINGKATAN PAD (PARIWISATA) KOTA MAKASSAR
Rabu, 23 Desember 2009
DAFTAR ALAMAT AND KANTOR PERUSAHAAN PHARMASI
1. Bernofarm pharmaceutical
Jl. Gatot Subroto No 68 Sidoarjo
Telpon.Kantor : 0318913015
2. Harsen Laboratories, PT
Pabrik: JI. Raya Jakarta-Bogor Km.24,6 Cijantung Jakarta Timur Telp.: 021-8400530
3. Ikapharmindo Putramas, PT
JI. Pulogadung Raya No.29 KIP Jakarta 13920
Telp.:021-4600086 Fax: 021-4608865
4. Indofarma PT
JI. Indofarma No.1 Cibitung Bekasi 17520
Telp.:021-8800025; 8800727
5. Kalbe Farma, PT
Kawasan Industri Delta Silicon,
JI. MH Thamrin Blok A3-1, Lippo Cikarang,
Bekasi Telp.:021-89907333-37 Fax: 021-8972874
6. Kimia Farma, PT
JI. Budi Utomo No.1 Jakarta 10710 PO Box 1204/ JKT 10002 Telp.:021-3849251-53; 3844174
7. Landson, PertiwiAgung, PT
JI. Gedung Mensa II Lantai II
JI. HR Rasuna Said Kav. B 35
Jakarta 12910 PO Box 4080/JKT 10040
W 021-5209356-57, 5271537
8. Samco Farma, PT
JI. Toko Tiga Seberang 11 Jak. Barat
TELP: 021-6393508, 6003315
9. Zenith Pharmaceutical, PT
JI. Tambak Aji I Semarang 50185
Telp.:024-8663870, 8663872
10. Yekatria Farma, PT
JI. Mojo 10, Dagen, Jaten Karanganyar
PO Box 134 Surakarta 57101
Telp.: 0271-825381 Fax: 0271-825014
11. Gratia Husada Farma, PT
Ds. Ngempon Klepu Karangjati
Semarang 50552
Telp.: 024-6922055; 6921988; 6923057
12. PT Berlico Mulia Farma
Jl. Juwangen Kalasan Km 10.6 Tromol Pos No. 8
YOGYAKARTA – 55571 Telp.: 0274-496446, 497893, 496443
13. PT Bima Mitra Farma
Jl Raya Pasar Kemis Desa Keroncong RT.003/04
TANGERANG – 15134
Telp.: 021-5902303, 5902516, 5900382, 5902515
14. Eisai Indonesia, PT
Ratu Plaza Tower Office lantai 11. Jalan Jendral Sudirman no. 9 Jakarta 10290
Telp.: 021-5226780 Fax: 021-5226790
15. Errita Pharma, PT
Desa Bojongsalam RT.04 RW.07 Kec. Rancaekek Kab. Bandung 40396
Telp.: 022-7949062, 7949064 Fax: 022-7949063
16.Medifarma Laboratories, PT
JI. Rawa Gelam V Blok L Kav. 11-13
Kaw. Ind. Pulogadung Jakarta 13260
TELP: 021-4608808 Fax: 021-4608801
17. Soho Industri Pharmasi, PT
JI. Pulogadung No, 6 KIP Jakarta 13920
TELP: 021-4605550 Fax: 021-4603111
18. PT Afifarma
Jalan Mauni Industri No.8 Kediri, Jawa Timur 64131
Telp: (0354) 683675-683679 Fax : (0354) 687292 atau 683679
1. Bernofarm pharmaceutical
Jl. Gatot Subroto No 68 Sidoarjo
Telpon.Kantor : 0318913015
2. Harsen Laboratories, PT
Pabrik: JI. Raya Jakarta-Bogor Km.24,6 Cijantung Jakarta Timur Telp.: 021-8400530
3. Ikapharmindo Putramas, PT
JI. Pulogadung Raya No.29 KIP Jakarta 13920
Telp.:021-4600086 Fax: 021-4608865
4. Indofarma PT
JI. Indofarma No.1 Cibitung Bekasi 17520
Telp.:021-8800025; 8800727
5. Kalbe Farma, PT
Kawasan Industri Delta Silicon,
JI. MH Thamrin Blok A3-1, Lippo Cikarang,
Bekasi Telp.:021-89907333-37 Fax: 021-8972874
6. Kimia Farma, PT
JI. Budi Utomo No.1 Jakarta 10710 PO Box 1204/ JKT 10002 Telp.:021-3849251-53; 3844174
7. Landson, PertiwiAgung, PT
JI. Gedung Mensa II Lantai II
JI. HR Rasuna Said Kav. B 35
Jakarta 12910 PO Box 4080/JKT 10040
W 021-5209356-57, 5271537
8. Samco Farma, PT
JI. Toko Tiga Seberang 11 Jak. Barat
TELP: 021-6393508, 6003315
9. Zenith Pharmaceutical, PT
JI. Tambak Aji I Semarang 50185
Telp.:024-8663870, 8663872
10. Yekatria Farma, PT
JI. Mojo 10, Dagen, Jaten Karanganyar
PO Box 134 Surakarta 57101
Telp.: 0271-825381 Fax: 0271-825014
11. Gratia Husada Farma, PT
Ds. Ngempon Klepu Karangjati
Semarang 50552
Telp.: 024-6922055; 6921988; 6923057
12. PT Berlico Mulia Farma
Jl. Juwangen Kalasan Km 10.6 Tromol Pos No. 8
YOGYAKARTA – 55571 Telp.: 0274-496446, 497893, 496443
13. PT Bima Mitra Farma
Jl Raya Pasar Kemis Desa Keroncong RT.003/04
TANGERANG – 15134
Telp.: 021-5902303, 5902516, 5900382, 5902515
14. Eisai Indonesia, PT
Ratu Plaza Tower Office lantai 11. Jalan Jendral Sudirman no. 9 Jakarta 10290
Telp.: 021-5226780 Fax: 021-5226790
15. Errita Pharma, PT
Desa Bojongsalam RT.04 RW.07 Kec. Rancaekek Kab. Bandung 40396
Telp.: 022-7949062, 7949064 Fax: 022-7949063
16.Medifarma Laboratories, PT
JI. Rawa Gelam V Blok L Kav. 11-13
Kaw. Ind. Pulogadung Jakarta 13260
TELP: 021-4608808 Fax: 021-4608801
17. Soho Industri Pharmasi, PT
JI. Pulogadung No, 6 KIP Jakarta 13920
TELP: 021-4605550 Fax: 021-4603111
18. PT Afifarma
Jalan Mauni Industri No.8 Kediri, Jawa Timur 64131
Telp: (0354) 683675-683679 Fax : (0354) 687292 atau 683679
Selasa, 01 Desember 2009
KOMUNIKASI
Beberapa definisi komunikasi adalah:
1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
4. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
5. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).
TUJUAN KOMUNIKASI
Hewitt (1981), menjabarkan tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:
1. Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2. Mempengaruhi perilaku seseorang
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
5. Berhubungan dengan orang lain
6. Menyelesaian sebuah masalah
7. Mencapai sebuah tujuan
8. Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
9. Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orng lain
DASAR KOMUNIKASI
Komunikasi mempunyai dasar sebagai berikut: Niat, Minat, Pandangan, Lekat, Libat.
Niat menyangkut :
Apa yang akan disampaikan
Siapa sasarannya
Apa yang akan dicapai
Kapan akan disampaikan
Minat, ada dua factor yang mempengaruhi yaitu:
• Faktor obyektif : merupakan rangsang yang kita terima
• Faktor subyektif : merupakan faktor yang menyangkut diri si penerima stimulus
Pandangan, merupakan makna dari informasi yang disampaikan pada sasaran, menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan kerangka pikir seseorang.
Lekat, merupakan informasi yang disimpan oleh si penerima.
Libat, merupakan keterlibatan panca indera sebanyak-banyaknya.
Jenis komunikasi terdiri dari:
1. Komunikasi verbal dengan kata-kata
2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh
1. Komunikasi Verbal mencakup aspek-aspek berupa ;
a. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi.
b. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
c. Intonasi suara: akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d. Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
e. Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
f. Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
2. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal.
Yang termasuk komunikasi non verbal :
a. Ekspresi wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang.
b. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya
c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
e. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
f. Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukan kaki atau mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stres
Beberapa definisi komunikasi adalah:
1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
4. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
5. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).
TUJUAN KOMUNIKASI
Hewitt (1981), menjabarkan tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:
1. Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2. Mempengaruhi perilaku seseorang
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
5. Berhubungan dengan orang lain
6. Menyelesaian sebuah masalah
7. Mencapai sebuah tujuan
8. Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
9. Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orng lain
DASAR KOMUNIKASI
Komunikasi mempunyai dasar sebagai berikut: Niat, Minat, Pandangan, Lekat, Libat.
Niat menyangkut :
Apa yang akan disampaikan
Siapa sasarannya
Apa yang akan dicapai
Kapan akan disampaikan
Minat, ada dua factor yang mempengaruhi yaitu:
• Faktor obyektif : merupakan rangsang yang kita terima
• Faktor subyektif : merupakan faktor yang menyangkut diri si penerima stimulus
Pandangan, merupakan makna dari informasi yang disampaikan pada sasaran, menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan kerangka pikir seseorang.
Lekat, merupakan informasi yang disimpan oleh si penerima.
Libat, merupakan keterlibatan panca indera sebanyak-banyaknya.
Jenis komunikasi terdiri dari:
1. Komunikasi verbal dengan kata-kata
2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh
1. Komunikasi Verbal mencakup aspek-aspek berupa ;
a. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi.
b. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
c. Intonasi suara: akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d. Humor: dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989), memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
e. Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
f. Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
2. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal.
Yang termasuk komunikasi non verbal :
a. Ekspresi wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang.
b. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya
c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
e. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
f. Gerak isyarat, adalah yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetukan kaki atau mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stres
CONTOH SURAT LAMARAN KERJA
Jakarta, 20 Desember 2006
Kepada Yth.
Kepala Bagian Personalia
DIRECT MARKETING DIVISION
P.O. BOX 553/JKS
Perihal : Lamaran Pekerjaan
Dengan hormat,
Berdasarkan informasi adanya lowongan pekerjaan sesuai dengan iklan di harian Kompas tanggal 18 Desember 2006, dengan ini saya mengajukan diri untuk posisi SR (Sales Representative).
Saya telah lulus dari SMA Bhinekka Tunggal Ika, Jakarta pada tahun 2005, dan saat ini sedang menyelesaikan semester terakhir kuliah malam (Extension Program) program Diploma 3 jurusan Manajemen Pemasaran di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ”Veteran” Jakarta. Saya memiliki kendaraan bermotor sendiri, telah mempunyai SIM C, dan dapat berbahasa Inggris dengan baik secara lisan maupun tulisan.
Sebagai bahan pertimbangan, dalam surat lamaran ini saya lampirkan:
1 lembar salinan ijazah terakhir
1 lembar salinan sertifikat kursus pendidikan bahasa Inggris tingkat menengah
1 lembar foto berwarna 4x6
1 lembar daftar riwayat hidup
1 lembar fotokcopi ktp
Besar harapan kami agar bapak dapat/ibu dapat memberikan kesempatan wawancara, sehingga saya dapat menunjukkan potensi diri saya secara lebih rinci.
Hormat saya,
Steven Balawan
CONTOH SURAT PHK
No : SK/Int/.../250107
Kepada Yth.
Sdr. ..............................
Perihal : Surat Pemutusan Hubungan Kerja
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan adanya efisiensi perusahaan yang mengakibatkan adanya restrukturisasi karyawan, dengan ini PT. Memecat Karyawan- melakukan pengurangan sebagian karyawannya untuk menyesuaikan dengan kondisi tersebut. PT. Memecat Karyawan dengan berat hati menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat lagi mempekerjakan Sdr. .......... sebagai.............
Dengan demikian maka terhitung mulai tanggal 31 Januari 2007 hubungan kerja dengan Sdr. dinyatakan berakhir.
Pihak Perusahaan mengucapkan banyak terimakasih atas loyalitas Saudara selama ini dan jika dikemudian hari perkembangan business Perusahaan semakin membaik, maka kesempatan untuk saudara agar bisa bergabung lagi akan selalu terbuka.
Semarang, 25 Januari 2007
PT. Memecat Karyawan
......................
Manager
Surat Pemutusan Hubungan Kerja ini telah dibaca, dimengerti dan diterima.
………………
Karyawan
Ket : 1 Lembar untuk arsip perusahaan
Jakarta, 20 Desember 2006
Kepada Yth.
Kepala Bagian Personalia
DIRECT MARKETING DIVISION
P.O. BOX 553/JKS
Perihal : Lamaran Pekerjaan
Dengan hormat,
Berdasarkan informasi adanya lowongan pekerjaan sesuai dengan iklan di harian Kompas tanggal 18 Desember 2006, dengan ini saya mengajukan diri untuk posisi SR (Sales Representative).
Saya telah lulus dari SMA Bhinekka Tunggal Ika, Jakarta pada tahun 2005, dan saat ini sedang menyelesaikan semester terakhir kuliah malam (Extension Program) program Diploma 3 jurusan Manajemen Pemasaran di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ”Veteran” Jakarta. Saya memiliki kendaraan bermotor sendiri, telah mempunyai SIM C, dan dapat berbahasa Inggris dengan baik secara lisan maupun tulisan.
Sebagai bahan pertimbangan, dalam surat lamaran ini saya lampirkan:
1 lembar salinan ijazah terakhir
1 lembar salinan sertifikat kursus pendidikan bahasa Inggris tingkat menengah
1 lembar foto berwarna 4x6
1 lembar daftar riwayat hidup
1 lembar fotokcopi ktp
Besar harapan kami agar bapak dapat/ibu dapat memberikan kesempatan wawancara, sehingga saya dapat menunjukkan potensi diri saya secara lebih rinci.
Hormat saya,
Steven Balawan
CONTOH SURAT PHK
No : SK/Int/.../250107
Kepada Yth.
Sdr. ..............................
Perihal : Surat Pemutusan Hubungan Kerja
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan adanya efisiensi perusahaan yang mengakibatkan adanya restrukturisasi karyawan, dengan ini PT. Memecat Karyawan- melakukan pengurangan sebagian karyawannya untuk menyesuaikan dengan kondisi tersebut. PT. Memecat Karyawan dengan berat hati menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat lagi mempekerjakan Sdr. .......... sebagai.............
Dengan demikian maka terhitung mulai tanggal 31 Januari 2007 hubungan kerja dengan Sdr. dinyatakan berakhir.
Pihak Perusahaan mengucapkan banyak terimakasih atas loyalitas Saudara selama ini dan jika dikemudian hari perkembangan business Perusahaan semakin membaik, maka kesempatan untuk saudara agar bisa bergabung lagi akan selalu terbuka.
Semarang, 25 Januari 2007
PT. Memecat Karyawan
......................
Manager
Surat Pemutusan Hubungan Kerja ini telah dibaca, dimengerti dan diterima.
………………
Karyawan
Ket : 1 Lembar untuk arsip perusahaan
Langganan:
Postingan (Atom)